Selamat Datang, Salam "BELA NEGARA" , "NKRI HARGA MATI"

PERBATASAN

Lihat berita lainnya »

ALUTSISTA

Lihat berita lainnya »

INDUSTRI PERTAHANAN

Lihat berita lainnya »

KERJASAMA DAN DIPLOMASI

Lihat berita lainnya »

Latest Post

DPR Setujui Dana PMN Rp 1,5 T Untuk Infrastruktur Pembangunan Kapal Selam PT PAL

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 17 September 2014 | 01.01

Jakarta - Komisi VI DPR-RI menyetujui usulan pemerintah mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Pal Indonesia (Persero) sebesar Rp1,5 triliun dalam bentuk dana tunai pada RAPBN 2015.

Persetujuan tersebut merupakan kesimpulan Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang dipimpin Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto di Gedung DPR-RI Jakarta, Selasa.

Menurut Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto, persetujuan PMN tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Badan Anggaran DPR-RI untuk dibahas sesua dengan Undang-Undang yang berlaku.

Dalam usulan tersebut, dana PMN akan digunakan untuk membiayai penyediaan fasilitas, peralatan dan SDM Pal dalam rangka pembuatan kapal selam.

Penyiapan infrastruktur pembangunan kapal selam itu merupakan penugasan dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan terkait kebutuhan kapal selam.

Menteri BUMN Dahlan Iskan menyambut baik persetujuan PMN kepada Pal oleh Komisi VI untuk pengembangan perusahaan itu.

Menurut Dahlan, dengan penyiapan infrastruktur pembangunan kapal selam maka ketergantungan terhadap industri alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari luar negeri dapat diminimalkan.

Pembangunan dan perawatan kapal selam yang dilakukan di dalam negeri akan menghemat devisa, dan menyebabkan terjadinya "multiplier effect" terhadap pertumbuhan industri dan ekonomi nasional.

Pada kesempatan itu, Komisi VI belum dapat menerima usulan PMN terhadap PT PLN (Persero) sebesar Rp5,23 trilun dalam RAPBN 2015.

Sedangkan usulan Penerusan Pinjaman Luar Negeri (SubLoan Agreement/SLA) kepada PT Pertamina sebesar Rp677,55 miliar dapat diterima DPR, untuk mendukung proyek pembangkit energi geothermal sebagai sumber daya energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Sumber: Antara

Tiga Unit KCR Telah Diserahkan, TNI AL Pesan Dua Kapal Perusak Kawal Rudal Buatan PT PAL

Surabaya - KRI Halasan diserahkan PT PAL ke TNI AL. KRI bernomor lambung 630 itu merupakan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter terakhir yang diserahkan ke TNI AL dari tiga pesanan KCR 60 meter.

Sebelumnya KRI Sampari 628 sudah diserahkan pada 29 Mei 2014 dan KRI Tombak 629 diserahkan pada 27 Agustus 2014. Selanjutnya ketiga kapal tersebut akan menjalankan tugasnya di wilayah Armada Maritim Barat (Armabar).

"Tiga kapal ini merupakan rencana strategis (restra) I tahun 2009-2014," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya acara penyerahan KRI Halasan 630 dari PT PAL ke TNI AL di divisi kapal perang PT PAL, Rabu (17/9/2014).

Selanjutnya, kata Purnomo, TNI AL akan memesan 18 unit KCR 60 meter, 18 KCR 40 unit meter, dan 16 unit kapal patroli cepat. Kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari renstra II dan III.

"Kapal-kapal tersebut akan membuat TNI AL menjadi world class navy," lanjut Purnomo.

Selain itu, TNI AL juga melakukan pemesanan untuk dua Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR/frigate). Pemesanan PKR tersebut ditandai dengan pemotongan plat baja pertama (first steel cutting). Proyek pembangunan PKR ini dilakukan bekerjasama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Ship Building (DSNS) dari Belanda.

Kerjasama dengan galangan kapal Belanda ini dilakukan untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan. Pasalnya, perkembangan kebutuhan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahunnya.

Sumber: Detik

Menhan Dukung Kemandirian Industri Pertahanan

Subang- Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. Bentuk dukungan tersebut disampaikan dalam sambutan acara Forum Komunikasi Litbang Pertahanan ke-25 yang dihelat di Kampus Dahana Subang (11/09).

Dukungan pemerintah tersebut, menurut Purnomo, dituangkan dalam beberapa langkah untuk kemajuan industri pertahanan nasional. Langkah pertama, pada tahun 2010 dibentuklah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) untuk mengkoordinasikan dan mensinergikan seluruh potensi yang ada di dalam negeri.

Melalui KKIP, ditelorkan tujuh program nasional. Program tersebut meliputi pembuatan pesawat tempur, kapal selam, Roket, Rudal, Radar, Propellant dan Tank.

“Dengan kemandirian ini, tahun 2022 kita tidak perlu lagi untuk mendatangkan pesawat dari luar negeri sejenis sukhoy,” ujarnya.

Masih menurut Purnomo, KKIP juga membuat road map untuk industri pertahanan dalam negeri dan melaksanakan tugas pembinaan kepada industri pertahanan nasional sesuai tupoksinya.

Khusus pembangunan pabrik propellant yang rencananya akan dibangun di Energetic Material Center (EMC) PT DAHANA (Persero), Purnomo mengatakan bahwa akan ada dampak positif untuk dunia litbang.

“Akan dibutuhkan SDM untuk industri propellant yang notabene baru di Indonesia di samping alih teknologi dari Negara pemiliknya di EMC ini. Ini merupakan tantangan bagi dunia litbang kita,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, ditandatangani juga nota kesepahaman antara PT DAHANA (Persero) dan Balitbang Kemhan RI. Kerjasama itu meliputi pengembangan sumberdaya Manusia, penelitian, pengkajian dan pengembangan teknologi dalam bidang bahan peledak serta propellant. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT DAHANA (Persero) F. Harry Sampurno dan Kabalitbang Kemhan Eddy S. Siradz disaksikan oleh Menteri Pertahanan.

Sebagaimana diketahui, sejak peletakan batu pertama oleh Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro pada 4 Desember 2010 lalu, pembangunan EMC rampung pada pertengahan 2012. Di lokasi seluas hampir 600 hektar ini diisi fasilitas perkantoran, gudang, laboratorium, dan pabrik, termasuk lokasi pabrik propellant yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Sumber: Antara

PT Dahanan Bangun Pabrik Propelan di Subang

Subang - Mendorong percepatan pembangunan industri propellant untuk pemenuhan kebutuhan alutsista menjadi hal penting saat ini. Kehadiran pabrik propellant yang akan dibangun di Kawasan Energetic Material Center (EMC) milik PT DAHANA (Persero) ini akan memberikan dukungan signifikan terhadap kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Topik hangat tersebut menjadi menu utama acara Forum Komunikasi Litbang Pertahanan ke-25 yang dihelat di Kampus Dahana Subang, 11 September 2014. Acara yang berlokasi di Auditorium Kampus Dahana ini dihadiri Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan anggota Forkom Litbang yang terdiri dari Kementerian Pertahanan, TNI, perguruan tinggi, pejabat daerah setempat, Industri, dan lembaga litbang kementerian.

Sebagaimana diketahui, sejak peletakan batu pertama oleh Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro pada 4 Desember 2010 lalu, pembangunan EMC rampung pada pertengahan 2012. Di lokasi seluas hampir 600 hektar ini diisi fasilitas perkantoran, gudang, laboratorium, dan pabrik, termasuk lokasi pabrik propellant yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

Propellant merupakan bahan pendorong roket/peluru yang tersusun atas fuel, oksidator dan aditif. Propelan base adalah bahan bakar dengan fuel dan oksidator yang sudah terpadu dalam satu senyawa kimia, misalkan Nitrocellulose atau Nitroglycerine atau Nitroguanidin. Propelan menjadi komponen utama MUNISI bagi kebutuhan persenjataan ringan, alutsista seperti meriam, kanon dan roket maupun untuk kepentingan sipil dan industri. Kebutuhan propelan dalam negeri sampai saat ini masih sepenuhnya diperoleh dari impor, sehingga sangat rawan terhadap embargo dan kemandirian kemampuan pertahanan NKRI.

Menurut Direktur Utama PT DAHANA (Persero) F. Harry Sampurno, pembangunan Pabrik Propellant ini memiliki nilai yang sangat strategis.

“Hal ini (pembangunan Pabrik Propellant) akan mendorong kemandirian ketahanan dan pertahanan nasional serta penegakan kedaulatan negara, dikarenakan propellant merupakan komponen utama untuk munisi bagi kebutuhan operasi TNI dan POLRI,” ujarnya.

Masih menurut Harry, kehadiran Pabrik Propellant ini banyak membawa manfaat. Beberapa diantaranya mengoptimalkan potensi industri dalam negeri serta penguatan struktur industri, mengembangan sumber daya manusia dengan keahlian di bidang propellant, dan alih teknologi dengan penguasaan dan pengembangan sendiri serta diversifikasi produk.

Ketika disinggung perkembangan pembangunan saat ini, Harry menjawab diplomatis bahwa banyak pihak yang terlibat dalam pembangunan ini sehingga memerlukan waktu untuk memulai pembangunan.

Sumber : Antara

Pindad Gandeng Perusahaan Belgia Kembangkan Sistem Meriam

BANDUNG- PT Pindad (Persero) mengambil langkah strategis jangka panjang untuk pengembangan sistem persenjataan kendaraan tempur dan tanknya. Senin (15/9/2014) Pindad resmi menggandeng perusahaan asal Belgia, Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense (CMI), untuk pengembangan sistem meriam atau turret. Untuk tahap awal, produsen amunisi senapan dan kendaraan tempur asal Bandung itu akan memproduksi turret kaliber 90 mm dan 105 mm untuk dipasang di kendaraan tempur produksi Pindad.

Penandatangan nota kesepahaman antara kedua perusahaan diresmian di hanggar produksi panser Anoa milik Pindad, di Kiara Condong, Bandung. Direktur Utama Pindad Sudirman Said mengungkapkan, kesepakatan ini membawa dampak positif bagi pengembangan Pindad sebagai perakit sistem persenjataan. Selain itu, kerjasama sekaligus bertujuan meningkatkan kemampuan teknologi perusahaan dan membawa Pindad masuk dalam global supply chain industri pertahanan bersama CMI.

Pindad dan CMI akan membentuk komite untuk menyusun proses alih teknologi dan pelatihan teknis untuk mendukung tujuan memproduksi turret kaliber besar. "Pindad juga memperoleh kesempatan untuk mengirimkan beberapa putra-putri terbaik kita untuk belajar masalah sistem persenjataan di CMI," kata Sudirman.

Kesempatan ini sangat sesuai dengan tujuan manajemen untuk membangun kapasitas perusahaan agar bisa maksimal dalam menjalankan amanah UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan.

Sementara itu, Executive Vice President CMI James Caudle menyatakan, CMI sebenarnya sudah lama hadir dan dikenal oleh Tentara Nasional Indonesia sebagai pengguna sistem persenjataan, meski hanya berupa nama. "Brand 'Cockerill' sudah akrab dikenal dan telah lama melengkapi sistem persenjataan TNI Angkatan Darat," katanya. "Ini akan menguntungkan bukan saja kami tetapi juga Pindad dan Indonesia".

CMI percaya kerjasama ini akan meningkatkan potensi besar industri pertahanan lokal dan mendukung sistem pertahanan nasional Indonesia lewat pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan transfer of technology. "Kami senang bisa meneken kerjasama dengan Pindad sebagai langkah awal jangka panjang dalam bidang perakitan dan teknologi sistem persenjataan," ujar Caudle.

Setelah meneken nota kesepahaman, Pindad dan CMI akan duduk bersama merampungkan detail kerjasama yang memuat secara rinci kesepakatan dan komitmen yang telah dijalin dalam bentuk skema kerjasama yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak. Kerjasama dengan CMI ini adalah kali kedua Pindad meneken kerjasama dengan industri pertahanan dunia. Bulan lalu, Pindad meneken kerjasama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk pengembangan amunisi kaliber besar.

Pindad memang sedang tencar mendorong tenaga ahlinya membangun sendiri kekuatan alat utama sistem persenjataan di dalam negeri. Untuk kendaraan tempur misalnya, sudah lahir kendaraan lapis baja Anoa dan kendaraan taktis Komodo.

Pindad juga sudah mengantongi kepercayaan TNI Angkatan Darat untuk melakukan retrofit tank AMX 13. Di tangan para insinyur Pindad, tank tua ini telah mengalami perubahan total mesin, sistem transmisi, elektronik hingga sistem senjata lewat pemasangan meriam kaliber 105 mm.

Sumber: Kompas

Pindad beli propelan dari PT Dahana

Bandung - PT Pindad (Persero) sepakat untuk membeli propelan atau bahan peledak produksi PT Dahana (Persero) untuk keperluan amunisi buatan produsen senjata tersebut. Nota kesepahaman di antara kedua badan usaha milik negara itu ditandatangani oleh Direktur Utama Pindad Sudirman Said dan Direktur Utama Dahana F. Harry Sampurno di kantor Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Senin, 15 September 2014.

"Dengan kerja sama ini maka kami bisa memperoleh jaminan pasokan propelan dari produksi dalam negeri," kata Sudirman saat menyampaikan sambutan.

Propelan merupakan bahan peledak yang digunakan sebagai pembentuk gas pendorong untuk peluru atau roket. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan propelan bagi ratusan juta butir pelurunya, Pindad masih mengimpor dari Belgia, Korea, dan Taiwan. (Baca: PindadGandeng RDM Garap Pasar Internasional)

"Kami harap, setelah pabrik propelan Dahana rampung pembangunannya, kami akan dapat pasokan dengan harga yang lebih kompetitif daripada produk impor," kata Sudirman. Selama setahun, Pindad memproduksi sebanyak 150 juta butir amunisi kecil.

Menurut Sudirman, kehadiran propelan produk Dahana akan membuat produksi amunisi Pindad lebih kompetitif di pasaran. Apalagi produsen alat utama sistem persenjataan ini tengah merampungkan proses kerja sama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk produksi amunisi kaliber besar di Turen, Malang. "Kebutuhan propelan pasti meningkat untuk memenuhi kebutuhan amunisi," ujarnya.

Dalam setahun, Pindad membutuhkan sekitar 200-250 ton propelan. Namun jumlah itu hanya untuk minimum esensial. Ke depannya, kata Sudirman, jika permintaan peluru cukup besar dari luar negeri, kebutuhan propelan juga akan meningkat.

Sudirman menambahkan, Pindad juga menetapkan sejumlah persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh kedua perusahaan tersebut. Jika ternyata ada ketentuan teknis yang belum terpenuhi oleh Dahana, Pindad diperbolehkan mengimpor propelan untuk mencukupi kebutuhan amunisinya. (Baca: PT Pindad Pastikan Bikin Peluru 7,62 Milimeter )

Direktur Utama PT Dahana Harry Sampurno menuturkan kerja sama dengan Pindad merupakan langkah strategis bagi perkembangan usaha Dahana. "Kesepakatan ini memungkinkan kami untuk memperoleh jaminan pembelian produksi propelan oleh industri dalam negeri," kata Harry.

Saat ini pihaknya tengah merampungkan pembangunan pabrik bahan peledak tersebut di Jawa Barat. Mengenai nilai investasi, Harry mengaku masih dalam tahap perundingan. Namun dia mengatakan kisaran angka investasinya sekitar US$ 250-350 juta.

Sumber: Tempo

Tiga Pesawat Tanpa Awak Buatan Dalam Negeri Selesai Tahun ini

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 03 September 2014 | 18.31

Tiga unit drone yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kini tengah diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. Rencananya, tiga unit drone atau pesawat terbang tanpa awak itu akan dirilis akhir tahun ini.

Hal itu disampaikan Direktur Pusat Teknologi industri Pertahanan Keamanan BPPT, Joko Purwono, Rabu (3/9/2014). “Sekarang masih dalam proses produksi di PTDI, dan rencananya dalam waktu dekat sudah selesai," kata Joko di ujung telepon.

Ketiga Drone itu diberi nama Wulung PA 08, 09 dan PA 10. Ketiganya dipersiapkan untuk tujuan pengawasan daerah perbatasan. Dengan kemampuan beroperasi hingga enam jam, pesawat nir awak ini mampu terbang dengan ketinggian 10 hingga 12 ribu meter.

Hingga kini belum dipastikan lokasi pengoperasian tiga unit drone ini. Namun, diperkirakan Pontianak akan lebih dulu menggunakan ini mengingat pihak terkait dinilai lebih siap.

Joko mengatakan, produksi Wulung juga sekaligus menyatakan kesiapan lembaga penelitian untuk mendukung rencana presiden terpilih Jokowi dalam menggunaan drone guna pengawasan wilayah nusantara.

Kepala Program Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) itu optimistis, Wulung mumpuni. “Kita harus bisa buktikan bahwa Wulung bisa memberikan manfaat,” tutur Joko. Bila dapat beroperasi dengan baik, rencananya dua unit drone akan diproduksi lagi.

Wulung telah mengalami beberapa pengembangan dari prototype-nya. Misalnya, Wulung sudah menggunakan noice reduction untuk mengatasi masalah kebisingan yang sebelumnya dikeluhkan.

Wulung sebelumnya telah diujicoba terbang pada 11 Oktober 2012. Pesawat terbang tanpa awak itu dinyatakan mampu terbang dengan jelajah maksimum 73,4 kilometer. Wulung bakal dilengkapi dengan kamera mumpuni seharga Rp 1 miliar.

Sumber: Kompas

Pemprov Kaltim Berikan Beasiswa Untuk Anak- anak Perbatasan

Balikpapan  - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak mengatakan anak-anak perbatasan juga berhak dan wajib menerima beasiswa yang diprogramkan Pemprov Kaltim yakni Beasiswa Kaltim Cemerlang.

Program beasiswa tersebut merupakan proyek strategis yang dilakukan Pemprov Kaltim sejak lima tahun yang lalu dan telah dimanfaatkan dengan baik oleh putra-putri Kaltim, kata Awang Faroek Ishak di Samarinda, Senin.

"Saya yakin yang namanya minyak dan gas serta batu bara itu akan habis. Tetapi yang tidak akan habis adalah sumber daya manusia. Lima tahun lalu Kaltim telah memberikan beasiswa kepada 187.000 orang. Hingga saat ini sudah ada 33 dokter yang kembali ke Kaltim. Karena itu, saya berharap anak perbatasan juga merasakan hal yang sama, menerima beasiswa ini," katanya.

Lima tahun ke depan ada 250.000 orang yang akan diberikan beasiswa. Karena itu, diharapkan seluruh masyarakat dapat memanfaatkan ini, terutama bagi warga di perbatasan dan terpencil.

Termasuk anak-anak semua suku bangsa yang menetap di Kaltim berhak menerima beasiswa Kaltim Cemerlang. Apalagi, tata cara proses penerimaan tersebut dapat diketahui secara jelas, yakni dengan cara online dan manual, katanya.

"Proses ini tersebar di Kaltim dan Kalimantan Utara (Kaltra). Saya berharap semua masyarakat dapat memanfaatkan program ini, terutama anak-anak di wilayah perbatasan. Karena, tujuan pemberian ini adalah untuk mewujudkan SDM daerah yang berkualitas di masa depan," kata Awang Faroek.

Tidak lama lagi Indonesia akan menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015. Diharapkan anak-anak Kaltim mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN. Karena itu, daerah ini harus menjadi salah satu provinsi yang mampu mencetak generasi muda berkualitas di Indonesia, katanya.

Peran pemerintah kabupaten/kota diperlukan untuk menyosialisasikan program itu, sehingga realisasi penerimaan beasiswa dapat terjangkau anak-anak Kaltim di wilayah perbatasan dan terpencil.

"Dengan adanya dukungan tersebut, saya yakin tidak ada anak Kaltim dan Kaltara yang tidak menerima beasiswa. Mudah-mudahan ini terwujud," kata Awang Faroek.

Sumber: Antaranews

Defence Media Center

Kementerian Pertahanan

PERHATIAN

"Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut"",

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURNAL PERTAHANAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger