Selamat Datang, Salam "BELA NEGARA" , "NKRI HARGA MATI"

PERBATASAN

Lihat berita lainnya »

ALUTSISTA TNI

Lihat berita lainnya »

INDUSTRI PERTAHANAN

Lihat berita lainnya »

KERJASAMA DAN DIPLOMASI

Lihat berita lainnya »

PRODUK DALAM NEGERI

Lihat berita lainnya »

Latest Post

Kapal TNI AL KCR Trimaran Terbuat Dari Bahan Tahan Api dan Anti-radar

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 29 Oktober 2014 | 17.22

Banyuwangi - Pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, terus melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Terbaru, penjaga kedaulatan maritim Indonesia ini memesan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter, yang diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest, sebuah perusahaan galangan kapal kebanggaan nasional yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio berkesempatan meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Jumat (24/10). Turut mendampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma.

"Kunjungan hari ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara,” kata Marsetio, di Banyuwangi, Jumat (24/10).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero).

"Untuk tahap pertama TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama,” ujar Marsetio.

Desain Kapal KCR Trimaran yang terbaru ini akan sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini juga akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar.

"Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT. Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri,” imbuh Marsetio.

Sebagai informasi, saat ini PT. Lundin tengah membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran 63 meter untuk TNI AL. Pembangunan kapal ini merupakan pembangunan yang kedua kalinya, yakni sebagai pengganti kapal sebelumnya "KRI Klewang-625" yang terbakar pada September 2012 sebelum diserahkan ke TNI AL.

KCR Trimaran ini berdesain unik "wave piercing" yang bisa tetap stabil di tengah kondisi cuaca buruk. Kapal ini juga bisa terhindar dari radar maupun infra merah.

Dalam kesempatan ini, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan.

"Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," kata Anas.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi.

"Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," pungkas Anas.

Sumber: Berita Satu

TNI Al Siap Menjadi Angkatan Laut Kelas Dunia

Jakarta- Angkatan Laut Republik Indonesia menyatakan komitmennya untuk menjadi angkatan laut kelas dunia. Komitmen itu muncul seiring kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

"Kita banyak mengirim perwira kita ke dalam dan luar negeri untuk mengambil ilmu akademis yang mendukung kemampuan ketentaraan seperti ke AS dan Australia. Menteri Pendidikan juga memberikan dukungan 100 prajurit melanjutkan studi S2 dan S3 untuk TNI AL," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir ketika mengunjungi Media Group, Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa (28/10/2014).

Pengakuan TNI AL sebagai angkatan laut kelas dunia juga datang dari berbagai pihak, termasuk dari angkatan laut Amerika Serikat. Apalagi, TNI AL selalu mengikuti berbagai kegiatan kelautan tingkat internasional seperti di Lebanon, Australia, dan negara lainnya.

TNI AL juga terus berupaya memenuhi standar minimum kebutuhan dan kelayakan alat utama sistem persenjataan TNI AL hingga tahun 2026 mendatang. "Itu kampanye kita di laut meskipun kurang mendapat publikasi serta tidak mudah untuk melakukan reportase apa yang telah kita perbuat," kata Manahan.

Sumber: Metrotvnews

Kronologi Jet Tempur TNI Paksa Mendarat Pesawat Singapura

Pontianak - Jet tempur TNI AU jenis Sukhoi berhasil mencegat dan memaksa 1 pesawat Singapura mendarat ketika memasuki wilayah kedaulatan udara Republik Indonesia di Pangkalan Udara (Lanud) Supadio, Pontianak, Selasa 28 Oktober 2014.

Kepala Dinas Penerangan Umum Pusat Penerangan (Kadispenum Puspen) TNI, Kolonel Inf Bernardus Robert menjelaskan, jet milik TNI tersebut berjenis SU-27/30MKI Flankers dari Skuadron Udara 11, dan kapal terbang Singapura yang dicegat merupakan pesawat sipil Beechcraft 9L bernomor registrasi Singapura, VH-PKF/Pesawat latih.

Dia menjelaskan, proses pendaratan paksa tersebut berawal pada Selasa 28 Oktober pukul 10.15 WIB, di mana Radar TNI AU melihat adanya satu pesawat asing yang melintas di wilayah Indonesia dari arah Selatan Singapura menuju Sibu Kinabalu, Malaysia.

"Atas kejadian tersebut, pesawat TNI AU langsung secara sigap melaksanakan pengejaran, dengan mengerahkan 2 Flankers, Call Sign Klewang Flight. Terdiri dari TS 3008, dengan pilot Letkol Penerbang Tamboto dan Kapten Penerbang Fauzi, serta TS 2704 dengan penerbang Kapten Penerbang Gusti lepas landas dari Batam menuju sasaran. Namun pesawat terbang asing sipil tersebut telah memasuki wilayah udara Malaysia," kata Bernardus dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Selanjutnya pada Selasa pukul 13.00 WIB, pesawat asing tersebut kembali terbang dari Malaysia dengan menggunakan rute yang sama. Penerbangan pesawat asing yang sama tersebut ditangkap kembali oleh radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I pada posisi di utara Pontianak.

"Melihat kejadian ini pesawat TNI AU kembali terbang dari Batam menuju sasaran untuk melaksanakan pendaratan secara paksa terhadap pesawat asing tersebut di Lanud Supadio, Pontianak," papar Bernardus.

Menurut Kapuspen TNI Mayjen TNI M Fuad Basya, pesawat asing tersebut untuk sementara dicurigai terbang di atas wilayah Indonesia tanpa izin pemerintah Indonesia pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dari permukaan laut dengan kecepatan 250-350 knot perjam.

"Pesawat tersebut selanjutnya dicegat alias diintersep dua Sukhoi Su-27/30MKI Flankers di atas perairan Laut China Selatan, yaitu di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau," begitu penjelasan Kapuspen TNI.

Hal senada juga diungkapkan Komandan Lanud Supadio Pontianak Kolonel Tedi Rizalihadi. "Pesawat jenis Beechcraft VHF FK diketahui terbang tanpa izin dan dipaksa hidding ke selatan. Tepat pukul 13.30 WIB, mendarat di Supadio dan sedang diinterogasi untuk mendalami kronologi, kenapa mereka berani melewati wilayah NKRI," jelas Tedi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara diperoleh keterangan bahwa tujuan terbang pesawat asing melintasi wilayah udara Indonesia adalah dalam rangka melaksanakan latihan/mengajar siswa penerbang dengan pesawat type Beecraft/VH-PFK/Pesawat Latih.

"Dalam sepekan ini, pesawat TNI berhasil mencegat dan memaksa mendarat pesawat terbang asing yang melanggar kedaulatan udara nasional telah dua kali. Hal ini membuktikan bahwa TNI selalu siap siaga sepanjang tahun tanpa henti, untuk menegakkan kedaulatan dan hukum di udara demi kepentingan dan keamanan nasional Indonesia."

Ada tiga awak pesawat (pilot asing/siswa) yang membawa pesawat tersebut, yakni Tan Chin Kia (Capt Pilot), Mr. Z. Heng Chia (Siswa), Xiang Bo Hong (Siswa) Warga Negara Singapore. Mereka saat ini masih dimintai keterangan di Lapangan Udara (Lanud) Supadio.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Supadio Mayor Sus Dwi Indro menambahkan, saat ini, pesawat asing itu masih dijaga ketat oleh Polisi Militer Angkatan Udara (POM AU). "1 Pleton diterjunkan dengan senjata lengkap. Selagi masih pesawat asingnya ada, mereka tetap standy by di dekat pesawat itu," katanya.

Sebelumnya jet tempur TNI juga berhasil memaksa mendarat pesawat asal Australia di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara karena melanggar masuk wilayah udara tanpa izin. Pilot Graeme Jacklyn dan kopilot Richard MacLean, telah membayar denda sebesar Rp 60 juta dan melengkapi persyaratan semua dokumen lainnya.

Sumber: Liputan6

TNI AU Dan TUDB Gelar Latihan Bersama di Tarakan

TARAKAN– Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB) mengadakan Latihan Bersama (Latma) Bruneisia VI/2014 di Pangkalan TNI AU (Lanud Tarakan).

Latma yang berlangsung Selasa (28/10/2014) hingga Jumat (31/10/2014), melibatkan helikopter CN-295 dari TNI AU serta CN-235 dan Black Hawk dari Brunei.

Latma Bruneisia yang dipusatkan di apron terminal baru Bandara Internasional Juwata Tarakan diikuti sekitar 200 personel terdiri dari Mabes TNI AU, Skadron Udara 2 Halim Perdana Kusuma, Lanud Tarakan, dan Tentera Udara Diraja Brunei. Semua personel dan armada dari Tentera Udara Diraja Brunei sudah tiba di Lanud Tarakan, Senin (27/10/2014).

“Latma Bruneisia dilakukan tiap tahun terkadang di Manado, Pontianak, atau di Brunei. Tahun ini dilakukan di Lanud Tarakan. Targetnya, apabila terjadi Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dan lain sebagainya, maka kita saling membantu. Indonesia bisa membantu Brunei, begitupun sebaliknya mereka membantu Indonesia. Jadi, ini meningkatkan soliditas dan kerjasama dalam melaksanakan operasi udara,” ujar Letkol Pnb Tiopan Hutapea, Komandan Lanud Tarakan kepada Tribunkaltim.co.id (TRIBUNNEWS Network), Senin (27/10/2014) malam.

Latma ini, jelasnya, untuk mensupport atau mensuplai logistik kepada masyarakat sipil di wilayah atau drop zone yang sulit dijangkau oleh sarana transportasi apapun kecuali melalui udara, disebabkan kondisi bencana alam ataupun hutan belantara.

“Intinya kami mendukung suplai logistik. Ya, bisa spareparts maupun bahan makanan dan lainnya. Namun barang yang diterjunkan tidak rusak karena menggunakan teknologi khusus yang dapat disaksikan saat latma nanti,” tandas Letkol Tio.

Menurutnya, simulasi rencana dilakukan di empat spot. Pembukaan Selasa besok dirangkai dengan Familiarization Flight, kemudian Rabu diawali morning briefing sebelum dilanjutkan dengan penerbangan dan penerjunan oleh CN Indonesia dan CN Brunei. Begitu pula pada Kamis. Jadi nantinya ada empat kali penerjunan.

Sumber: Tribunnews

Langgar Wilayah kedaulatan RI, Sukhoi TNI AU Paksa Pesawat Sipil Singapura Mendarat di Bandara Supadio

JAKARTA - Pesawat tempur TNI AU jenis Sukhoi SU-27/30MKI Flankers dari Skadron Udara 11, Lanud Hasanuddin memaksa satu buah pesawat terbang sipil Singapura mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, Selasa (28/10). Pesawat Beechcraft 9L bernomor registrasi Singapura, VH-PKF belakangan diketahui sebagai pesawat latih yang dipaksa mendarat (force down) saat melintas memasuki wilayah kedaulatan udara RI.

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI M Fuad Basya mengungkapkan, Sukhoi pertama bergerak pada pukul 10.15 WIB saat radar TNI AU menangkap adanya satu pesawat asing yang melintas di wilayah Indonesia dari arah selatan Singapura menuju Sibu Kinabalu, Malaysia. Karenanya, Sukhoi yang tengah bersiaga di Batam pun langsung bergerak melakukan pengejaran.

”Pesawat TNI AU langsung secara sigap melaksanakan pengejaran, dengan mengerahkan dua flankers,” kata Fuad dalam keterangannya kepada media, Selasa (28/10). Hanya saja, pesawat terbang asing sipil Singapura itu ternyata telah memasuki wilayah udara Malaysia.

Namun, pada pukul 13.00 WIB ternyata pesawat asing itu kembali terbang dari Malaysia dengan rute sama. Penerbangan pesawat asing yang sama itu tertangkap kembali oleh radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I pada posisi di utara Pontianak.

"Melihat kejadian ini pesawat TNI AU kembali terbang dari Batam menuju sasaran untuk melaksanakan pendaratan secara paksa terhadap pesawat asing tersebut di Lanud Supadio, Pontianak," ujarnya.

Fuad menjelaskan, pesawat asing itu terbang di atas wilayah Indonesia tanpa izin pemerintah pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dari permukaan laut dengan kecepatan 250-350 knot per jam. Pesawat sipil asing itu lantas dicegat dua Sukhoi Su-27/30MKI di atas perairan Laut China Selatan, tepatnya di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara diperoleh keterangan bahwa tujuan terbang pesawat asing melintasi wilayah udara Indonesia adalah dalam rangka melaksanakan latihan/mengajar siswa penerbang dengan pesawat type Beechcraft/VH-PFK/Pesawat Latih. “Ada tiga awak pesawat (pilot asing/siswa) yang saat ini masih dimintai keterangan di Lanud Supadio, yaitu Tan Chin Kia (Capt Pilot), Mr. Z. Heng Chia (Siswa), Xiang Bo Hong (Siswa) Warga Negara Singapore," Fuad M Fuad Basya.

Sumber: JPNN

TNI AU Selidiki Misi Pesawat Asing Langgar Wilayah Udara

Pontianak - Pesawat asing milik Pacific Flight Service Pty LTD ditahan di Pangkalan TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Pesawat itu ditahan karena melanggar wilayah udara RI. TNI AU bersama petugas terkait lainnya akan menyelidiki motif pilot memasuki wilayah udara RI tanpa izin.

“Mereka telah mengurus perizinan penerbangan ini melalui perwakilan mereka di Jakarta. Jadi masih dalam penyelidikan terhadap misi yang mereka lakukan sehingga memasuki wilayah udara di Indonesia,” Kata Komandan Lanud Supadio, Kolonel Penerbang Tedi Rizalihadi di Lapangan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (28/10/2014).

Menurut Tedi, pesawat dengan registrasi VH-PFK itu memasuki wilayah udara RI pada pukul 08.00 WIB. Pesawat yang biasa digunakan untuk latihan ini diketahui berangkat dari Sibu, Malaysia, dan terbang di atas perairan Laut China Selatan lalu terdeteksi radar di wilayah udara RI.

"Pesawat Hawk dari Skadron I Supadio yang sedang melakukan patroli di perairan Liku Sambas, Kalbar, ikut melakukan penyergapan bersama pesawat Sukhoi yang lepas landas dari Batam, dan akhirnya melakukan intercept,” ujar Tedi.

Pesawat tipe Beechcraft King Air ini dipaksa mendarat di Lanud Supadio pada pukul 14.24 WIB, saat hujan mengguyur. Di Lanud, puluhan personel TNI dengan senjata lengkap sudah menyambut di apron. Sang Kapten Pilot Tan Chian Kian (WN Singapura) dengan 2 awak Xiang Bohong (WN Tiongkok) dan Zhen Chen (WN Tiongkok) langsung digeledah, pesawatnya turut digeledah.

“Pesawat ini teregistrasi di Singapura, tergolong jenis pesawat latih untuk sekolah penerbang sipil. Pesawat ini untuk latihan navigasi dan instrumen, untuk sekolah penerbangan dari Tiongkok,” ungkap Tedi.

Pesawat Sukhoi yang melakukan peyergapan dan force down berasal dari Skadron 11 Batam, dipiloti Komandan Skadron Letkol Penerbang Tamboto dan Mayor penerbang David ali. Sementara pesawat Hawk dari Skadron I Supadio dipiloti Mayor Penerbang Adi Brata dan Kapten Penerbang Dodo.

Tedi menyebutkan, indikasi kesalahan instrumen tidak ditemukan. Sehingga dugaan sementara pesawat tersebut sengaja melewati wilayah udara Indonesia.

"Seharusnya melewati rute pesawat komersil lainnya yang telah diberikan izin," ujar Tedi.

Untuk sementara, pesawat asing itu ditahan, begitu juga untuk tiga awak pesawat. Mereka dikenakan UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dengan ancaman denda Rp 60 juta. Sanksi bisa lebih berat jika ternyata ada misi tersembunyi yang mengancam kedaulatan NKRI.

Sumber: Detik

Menhan Ryamizard Ryacudu: Pertahanan Kuat Memerlukan Alutsista dan SDM Modern

JAKARTA - Jenderal TNI (purn) Ryamizard Ryacudu terpilih menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja Presiden RI Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla.

Meski belum ingin membicarakan program, mantan Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002-2005 itu mengaku ingin agar pertahanan Indonesia diperkuat di darat, laut dan udara. Baik fisik maupun nonfisik.

"Kalau maritim enggak mendukung pertahanan ya bolong begitu," ujar pria asal Palembang itu di kompleks Istana Negara, Jakarta, Minggu, (26/10).

Selain itu, kata Ryamizard, untuk memperkuat pertahanan diperlukan alutsista dan sumber daya manusia modern. Ia berharap dapat menjalankan itu di pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

"Alutsista juga harus lebih modern. Kalau kita beli alutsista macam-macam tapi yang mengawal tidak profesional tidak ada gunanya," tegas Ryamizard.

Ryamizard Ryacudu adalah mantan perwira tinggi militer TNI AD yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005.

Ryamizard adalah menantu dari mantan Wakil Presiden, Try Sutrisno. Ia dikenal sebagai jenderal lurus dan tegas. Kariernya mulai cemerlang setelah dia memangku jabatan Pangdam V Brawijaya, yang kemudian diteruskan menjadi Pangdam Jaya.

Saat terjadinya gesekan elit nasional pada masa presiden Gus Dur, Ryamizard yang saat itu Pangdam Jaya mengancam siapa saja yang akan mengganggu keamanan di wilayahnya akan dihadapinya. Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.

Kemampuannya merangkul semua unsur TNI saat apel siaga di Lapangan Monas yang melibatkan unsur TNI AL dan TNI AU Juli 2001 menarik KSAD untuk menunjuknya sebagai Wakil KSAD dan kemudian mengantikan Endriartono Sutarto sebagai KSAD.

Sumber: JPNN

Menhan Ryamizard Ryacudu: Industri dalam negeri diutamakan

Jakarta - Menhan Ryamizard Ryacudu sudah punya pandangan soal penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Dia menegaskan, industri pertahanan akan mengutamakan produksi dalam negeri.

"Industri dalam negeri harus diutamakan. Semua kita harus mandiri. Harus berdiri sendiri," jelas Ryamizard di halaman Istana Negara, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Ryamizard juga menegaskan, saat ini Alutsista yang digunakan pertahanan Indonesia dinilai sudah lumayan. Dia pun akan mengganti yang tidak layak pakai.

"Alutissta sudah bagus kita lihat dulu, saya harus profesional. Yang tidak bagus ya kita lihat bisa diapakan," tutup dia.

Sumber: Detiknews

Defence Media Center

Kementerian Pertahanan

INDO DEFENCE 2014 Expo & Forum

PERHATIAN

"Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut"",

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURNAL PERTAHANAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger