Selamat Datang, Salam "BELA NEGARA" , "NKRI HARGA MATI"

PERBATASAN

Lihat berita lainnya »

ALUTSISTA

Lihat berita lainnya »

INDUSTRI PERTAHANAN

Lihat berita lainnya »

KERJASAMA DAN DIPLOMASI

Lihat berita lainnya »

Latest Post

Pindad dan FNSS Turki Bangun Tank Medium 30 Ton

Written By Jurnal Pertahanan on Kamis, 28 Agustus 2014 | 05.35

Bandung - Pemerintah menyiapkan 7 program kemandirian industri pertahanan (inhan) yakni Pengembangan Pesawat tempur (KFX/IFX), Roket dan Rudal Nasional, Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), Kapal Selam, Pembangunan Industri Propelan, Radar Nasional dan Tank Nasional.

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Inhan, untuk Lead Integrator dipercayakan kepada perusahaan pelat merah yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Strategis. Salah perusahaan tersebut adalah PT Pindad, yang dipercayakan menangani program Tank Nasional.

Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengatakan, pihaknya telah menyiapkan konsep pembuatan kendaraan tempur lapis baja menggunakan roda rantai ini.

Konsep awal akan dilakukan untuk membangun tank ukuran sedang bersama sejumlah mitra luar negeri, salah satunya Perusahaan Kontraktor Militer FNSS asal Turki. Sesuai dengan kondisi geografis, bobot tank dipilih tidak boleh lebih dari 30 ton.

"Tank medium itu kita diminta untuk mengkoordinir seluruh aktivitas, desain engineering maupun hungan sourching itu yang kita lakukan dengan FNSS. Rencananya itu adalah penelitian bersama dan produk sharing bersama. Harapannya Pindad punya pakar, baik di dalam negeri maupun kawasan sekitar," ucap Tri kepada Liputan6.com di kantornya, Bandung, Jawa Barat.

Untuk Turret system, PT Pindad sudah menyiapkan 3 pilihan yaitu Cockerill Maintenance & Ingenierie (CMI) Belgia, Oto Melara asal Italia dan Denel Land System asal Afrika Selatan. Sedangkan untuk mesin pemilihan dari Negara di Eropa salah satunya dari industry pertahanan Perancis.

"Ini juga ada beberapa alternatif, karena kita sudah putuskan medium tank ini menggunakan 105mm, kita punya tiga alternatif yang bisa menyuplai 105 mm. Ada CMI, Oto Melara, Ada denel. Itu juga kita ajukan kepada pihak kementerian kepada KKIP, kepada user, terkait kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kanon turret ini," papar Tri.

"Teman-teman sudah memiliki beberapa alternatif. Itu ada 3 pilihan untuk engine. Sesuai dengan pengalaman, kita lebih mudah menggunakan produk Eropa. Di sana mereka telah memiliki berbagai varian, di mana engine itu juga digunakan untuk komersil," imbuh dia.

Selain bobot yang menjadi syarat utama, sejumlah pra-syarat juga harus dipenuhi desainer PT Pindad dan FNSS seperti Silhouette (bayangan). Hal ini dilakukan agar tank mudah bersembunyi saat berada di medan perang.

"Konsep produknya dari Pindad, kita sudah memberikan desain-desain bahwa tinggi tidak boleh lebih dari 2,5 meter di atas kanon kayak gitu-gitu dari Pindad. Kemudian, performance seperti apa itu juga dari Indonesia. Itu yang kita mengembangkan kerjasama dengan mereka, bahwasanya penentuan sumber sourching contohnya Power Pack, Engine. Itukan sangat menentukan pada saat nanti kemudian maintenance dan sebagainya. Itu juga kita memberikan masukan," terangnya.

Tank medium buatan Pindad ini akan selesai pada Tahun 2016. Pindad berharap tank medium dapat membantu kebutuhan alat utama sistem alat utama sistem senjata (alutsista) TNI yang telah berumur uzur.

"Bapak KSAD juga sudah mengharapkan Pindad segera mengeluarkan roda rantai, karena penggunaan dan kebutuhan berbeda. Medium tank, karena ini pendanaan dari Negara ya dari Kementrian harapannya dalam 3 tahun APBN itu bisa diselesaikan," tandas Tri.

Sumber: Liputan6

Pindad dan Rheinmetall Kerjasama Produksi Amunisi Tank Leopard

Rheinmetall Denel Munition (RDM) dan PT Pindad menandatangani sebuah perjanjian kerja sama (memorandum of understanding/MoU), guna membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Rheinmetall dan PT Pindad membentuk sebuah joint venture (usaha patungan) pada 2015, dengan fasilias di atas lahan seluas 168 hektare di daerah Malang, Jawa Timur, untuk mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar.

Pabrik ini akan memproduksi amunisi tank Leopard dalam kisaran 30 hingga 105 milimeter yang diperuntukkan bagi TNI dan untuk memenuhi permintaan sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik.

Harald Westermann, Direktur Rheinmetall Landsystem GmbH, mengatakan bahwa Rheinmetall tertarik melakukan kerja sama jangka panjang dengan Indonesia, guna meningkatkan teknik industri pertahanan dalam negeri.

"Indonesia merupakan pasar strategis bagi kami di masa mendatang. Kami akan men-support tank buatan kami selama 25 hingga 30 tahun. Bila pihak Indonesia meminta support lebih lama lagi, tentu akan kami lakukan," ujarnya.

Saat upacara rollout MBT Leopard dan Marder di Unterluss Jerman, beberapa waktu lalu, Direktur PT Pindad Sudirman Said, menegaskan bahwa yang sifatnya jangka panjang, Pindad juga akan mengembangakn produk lokal lain bersama Rheinmetall.

Sementara itu, terkait dengan pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall, Pindad juga dilibatkan dalam pemasangan sejumlah bagian tank. Seperti sistem komunikasi dan sistem pendingin. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri sebagai transfer teknologi.

Seperti diketahui, sebanyak 52 tank yang terdiri dari 24 MBT Leopard A4 dan 28 Tank Marder, sudah diberangkatkan sejak 31 Juli 2014 lalu dengan kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Tank-tank itu dijadwalkan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Agustus 2014. Rencananya, setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, tank-tank ini akan dipindahkan dari Morning Celesta ke kapal yang lebih kecil untuk dikirim ke Tanjung Perak Surabaya. Tank-tank ini segera disiapkan untuk parade militer pada ulang Tahun TNI 5 Oktober mendatang di Surabaya, Jawa Timur.

Sumber: Vivanews

TNI AD Sedang Pesan Peluru Kendali Penghancur Tank

Madiun - TNI Angkatan Darat akhirnya memiliki peluru kendali penghancur tank dan kendaraan tempur lapis baja yang disebut Anti Tank Guided Missile (ATGM). Keberadaan alat ini untuk melengkapi modernisasi Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) RI.

Salah satu jenis ATGM yang sedang dipesan TNI AD adalah Next Generation Light Antitank Weapon (NLAW) buatan perusahaan Swedia bekerja sama dengan Inggris, SAAB Bofors Dynamics.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com dari Kesatuan Paldam V Brawijaya, Rabu (20/8/2014), ATGM ini dipilih karena praktis dan ringan, cocok untuk postur prajurit Asia khususnya Indonesia. ATGM NLAW cukup dioperasikan seorang prajurit untuk menghancurkan berbagai jenis tank tempur utama modern, dengan sekali tembak.

Dengan bobot 12,5 kg, ATGM NLAW memiliki kemampuan memprediksi garis pandang, menyeleksi mode serangan, serangan atas atau serangan langsung.

Tapi alat ini memiliki kelemahan. Yakni jarak tembaknya pendek, antara 20 hingga 600 meter. Tapi hal ini tak dianggap masalah jika dikaitkan dengan kondisi geografis Indonesia yang relatif banyak menyediakan tempat perlindungan seperti bukit, gunung maupun hutan dan rawa.

ATGM lebih menekankan kepada aspek mobilitas operatornya. ATGM ini juga dianggap cocok untuk perang kota, di mana NLAW bisa diluncurkan dari ruang-ruang tersembunyi dan sempit.

Ukuran ATGM bervariasi. Mulai dari senjata yang ditembakkan dari bahu yang bisa dibawa satu prajurit, senjata yang lebih besar yang harus ditembakkan menggunakan tripod, sampai yang terpasang dan ditembakkan dari kendaraan dan pesawat udara.

Dengan diperkenalkannya ATGM lebih kecil, yang mampu membawa hulu ledak besar pada medan perang modern, membuat infanteri memiliki kemampuan menghancurkan tank tempur utama yang kuat dari jarak sangat jauh, dan biasanya pada tembakan pertama.

Sebelum ada ATGM, senjata-senjata infanteri TNI AD seperti senapan anti-tank, roket anti-tank, dan ranjau darat magnetik, memiliki daya tembus baja yang lemah sehingga mengharuskan seorang prajurit berada di dekat target.

Sumber: Liputan6

PT PAL Jakaki Kerjasama Industri Pertahanan dengan Turki

Surabaya - Perusahaan galangan kapal PT PAL Indonesia (Persero) berencana menjajaki peluang kerja sama industri pertahanan dengan Turki untuk mendukung kebutuhan alutsista dalam negeri. Penjajakan tersebut dilakukan sejalan dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) menjadi Undang-Undang Kerjasama Industri Pertahanan RI-Turki dalam Rapat Paripurna DPR RI pada 10 Juli 2014 lalu.

Direktur Produksi PAL Indonesia, Edy Widarto, di Surabaya, di Surabaya, Kamis (28/8) mengatakan, selama ini PAL kerap melakukan kerjasama dalam pembuatan kapal-kapal perang dengan negara asing. Dengan adanya undang-undang tersebut diharapkan bisa mempermudah proses kerja sama.

“Kerja sama dengan Turki masih akan kami jajaki dulu seperti apa dan bagaimana bentuknya, karena kemungkinan kalau di sini (PAL) penuh pesanan kapal, bisa saja kerjasamanya berupa pembuatan kapal perang di sana,” ujarnya.

Edy mencontohkan, PAL Indonesia juga pernah melakukan kerja sama dengan galangan swasta di Jeddah seperti mendapat proyek dari Jeddah, mendapat dukungan pendanaan ataupun membangun proyek di Jeddah.

“Begitu pula dengan Myanmar yang saat ini sedang ingin memesan kapal perang jenis LPD seperti yang dipesan Filipina kepada kami pada beberapa bulan lalu,” terangnya.

Rencananya, direksi PAL Indonesia dalam waktu dekat akan ke Myanmar untuk membahas proyek pembuatan kapal jenis LPD tersebut.

Diketahui dalam UU Kerjasama Industri Pertahanan RI-Turki tersebut meliputi kerjasama penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi penelitian bersama, pengembangan, produksi dan proyek modernisasi, bantuan timbale balik dalam bidang produksi dan pengadaan produk industri dan jasa pertahanan, penjualan dan pembelian yang saling menguntungkan, pertukaran informasi ilmiah dan teknis.

Sementara di dalam negeri, lanjutnya, PT PAL juga ditawari untuk membuat galangan di Cilegon oleh Pemerintah Daerah setempat. Pemda Cilegon telah menyediakan lahan seluas 50 hektar untuk pembangunannya. "Masih kami jajaki juga. Dalam minggu-minggu ini, setelah lebaran kami akan kesana. Melakukan survei lokasi. Menurut rencana, reklamasi pantai akan dilakukan sekitar 400 meter dari daratan untuk mendapatkan draf sekitar 12 meter," katanya.

Namun untuk tahap awal, galangan di Cilegon ini nantinya dikhususkan untuk menerima reparasi kapal atau maintenance. Hal ini diputuskan karena investasi untuk mengadaan infrastruktur maintenance relatif lebih kecil dibanding fasilitas pembangunan kapal.

"Yang mahal mungkin hanya reklamasinya. Sementara untuk peralatan yang dibutuhkan cukup sederhana dan tidak mahal," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya menilai Cilegon cukup trategis untuk pendirian sebuah galangan kapal. Selain banyaknya industri pendukung yang sudah ada, pasar juga cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah pelabuhan yang ada disana.

"Industri pendukung tersedia, pasar juga sudah terbentuk. Tinggal kita menggarapnya," kata Edi.

Sumber: Kominfo Jatim

Panser Anoa Kodam IV Diponegoro Meriahkan Karnaval HUT RI

KULONPROGO – Berbagai atraksi dan kreasi warga masyarakat memeriahkan karnaval HUT ke-69 Kemerdekaan RI di Kulonprogo, Kamis (28/8). Sejumlah kendaraan tempur milik TNI AD dari Kikavser Kodam IV Diponegoro turut pula berkirab dan menjadi warna tersendiri dalam karnaval kali ini.

Empat unit kendaraan tempur yang terdiri dari dua Panser Anoa dan dua Panhard itu mampu menarik perhatian penonton. Bahkan sejak masih terparkir menunggu start, banyak anak-anak sekolah yang mendekati dan diizinkan untuk naik ke atas kendaraan tempur produksi Pindad tersebut.

Selain kendaraan tempur, Kodam IV Diponegoro juga mengirimkan drumband serta barongsai yang dimainkan oleh para prajurit TNI AD. Atraksi ini pun mampu mengundang kekaguman warga masyarakat yang menonton.

"Ini menjadi warna tersendiri, bagi anak-anak dan remaja-remaja Kulonprogo tentu banyak yang belum pernah melihat Panser Anoa. Mereka berkesempatan melihat produk dalam negeri anak-anak bangsa, juga bisa melihat teknologi tersebut, peralatan angkatan bersenjata yang ada," kata Kepala Dinas Pendidikan Kulonprogo, Sumarsana.

Atraksi maupun kreasi lainnya yang tak kalah menarik ditampilkan juga oleh para peserta dari masyarakat umum, instansi, maupun sekolah-sekolah. Antara lain ada replika raksasa udang vaname yang ditampilkan warga Imorenggo, Karangsewu, Galur, serta replika Garuda dari warga Bendungan, Wates.

Menurut Sumarsana, event yang diselenggarakan Pemkab Kulonprogo melalui Dinas Pendidikan ini selain untuk memperingati HUT RI juga bertujuan menarik kreativitas warga Kulonprogo dalam mengisi kemerdekaan RI. Pihaknya berharap event ini menjadi salah satu agenda budaya rutin di Kulonprogo.

"Akan kita kemas dan kita link-kan dengan keistimewaan Yogyakarta, bagaimana ini menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat Kulonprogo," tuturnya.

Sumber: suaramerdeka.com

450 Personel TNI AD Siap Diberangkatkan ke Perbatasan PNG

PALU- Sebanyak 450 personel TNI AD siap mengamankan wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Mereka adalah bagian dari Tim yang akan diberangkatkan pada akhir September 2014. Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap Brigjen TNI Supartodi di Palu, Kamis (28/8), mengatakan pengamanan yang berlangsung selama enam bulan itu bertujuan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Pasukan TNI dan tentara Papua Nugini juga akan sama-sama berpatroli hingga terjalin kerukunan," katanya usai memberi pembekalan kepada pasukan.

Sebelumnya ratusan pasukan itu melakukan latihan pratugas tahap II di wilayah Bangga, Kabupaten Sigi.

Supartodi juga berharap pasukan yang bertugas bisa saling menghormati dengan pasukan lainnya. Selain itu, fisik dan mental juga harus disiapkan karena cuaca di sana bisa berubah sewaktu-waktu.

Dia mengatakan kondisi keamanan di wilayah perbatasan relatif aman dan kondusif karena selama ini jarang ada gejolak. Meski demikian, dia meminta pasukan yang bertugas agar tetap waspada ketika melakukan penjagaan.

Dipilihnya wilayah Bangga sebagai tempat penugasan sebelumnya, adalah karena daerah tersebut memiliki kemiripan kondisi geografis dengan lokasi di Merauke sehingga personel tidak terlalu kaget saat bertugas.

Latihan Satuan Tugas Operasi Pengamanan Perbatasan RI-Papua Nugini tersebut berlangsung selama dua pekan hingga 15 Agustus 2014.

Materi latihan tersebut antara lain komunikasi sosial kepada masyarakat, operasi intelijen, operasi militer selain perang, dan pendekatan kepada masyarakat.

Pasukan yang sebagian besar dari Batalyon Infanteri 711/Raksatama tersebut akan bertugas di perbatasan RI-Papua Nugini di Papua menggantikan Batalyon Infanteri 715/Mololiatu, Gorontalo.

Pasukan Yonif 711/Raksatama nantinya akan digantikan Yonif 713/Satyatama Gorontalo.

Sumber: Sinar Harapan

TNI dan AB Thailand Bahas Peningkatan Kerjasama Militer

Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata (AB) Kerajaan Thailand menggelar sidang ke-8 Thailand-Indonesia High Level Committee (THAINESIA HLC) tahun 2014, di Hotel Sheraton, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/8/2014). Sidang ini merupakan forum pertemuan tahunan secara reciprocal antara Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko dengan counterpart-nya Chief of Defence Forces of the Royal Thai Armed Forces (CDF RTARF) General Tanasak Patimapragorn untuk membahas, mengevaluasi, merekomendasikan dan melaksanakan kerja sama militer kedua negara.

Agenda yang dibahas dalam Sidang ke-8 THAINESIA HLC meliputi kegiatan kerja sama bidang intelijen (Joint Intelligence Sub-Committee/JISC), kegiatan kerja sama bidang operasi dan latihan terkoordinasi (Joint Coordinated Operations and Exercises Sub-Committee/JCOESC) serta bidang pendidikan dan pelatihan (Joint Education and Training Sub-Committee/JETSC).

Dalam sambutannya Panglima TNI mengatakan, menghadapi perkembangan fenomena keamanan dewasa ini, baik pada skala regional maupun global, kita patut mewaspadai berbagai tantangan dan ancaman yang bersifat tradisional maupun non-tradisional, antara lain : kejahatan lintas negara, aksi teror, penguasaan wilayah oleh kekuatan besar, perubahan iklim dan pemanasan global, penyelundupan manusia dan senjata, penyakit menular serta merebaknya uji coba senjata pemusnah massal yang sangat membahayakan kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

Dalam mengantisipasi situasi keamanan di wilayah kawasan ASEAN, Indonesia dan Thailand perlu bekerja sama secara sinergi dalam suatu kerangka kerja sama yang saling menguntungkan dalam berbagai bentuk interaksi kegiatan. Melalui kerja sama kemitraan yang komprehensif, diharapkan hasil yang dicapai kedua pihak akan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas kedua angkatan bersenjata, keamanan perbatasan yang semakin kondusif dan wilayah kawasan di sekitarnya, serta hubungan baik kedua negara yang semakin kokoh.

Lebih lanjut menurut Panglima TNI, sidang kali ini merupakan momen penting bagi hubungan dan kerja sama antara angkatan bersenjata kedua negara, karena bertepatan dengan dilaksanakan sidang tahunan antara Panglima TNI dan Pangab Thailand, dalam rangka membahas dan mengevaluasi serta merencanakan kerja sama militer kedua negara yang akan datang dan bahwa sidang ke-8 THAINESIA HLC tahun ini mengandung nilai yang sangat penting dan strategis bagi kedua negara, karena hasil-hasil kesepakatan dalam sidang ini, akan menjadi pedoman dan payung hukum bagi kegiatan-kegiatan selanjutnya dalam mempertimbangkan lingkup bidang kerja sama dan berbagai inisiatif dalam peningkatan kerja sama militer kedua negara. Disamping itu kedepan juga akan memasukan agenda pembicaraan tentang kerja sama di bidang logistik, penerangan dan kesehatan militer.

Setelah melaksanakan sidang, rombongan delegasi AB Thailand berkesempatan mengunjungi PT. Pindad dengan peninjauan fasilitas produksi dan mencoba senjata ringan.

Beberapa pejabat tinggi TNI yang turut mendampingi Panglima TNI diantaranya: Wakasad, para Asisten Panglima TNI, Koorsahli Kasau, Asops Kasal, Kapuskersin TNI dan Wakapuspen TNI Laksma TNI F.X. Agus Susilo, M.M. Sedangkan dari AB Thailand antara lain adalah Deputy Chief of Joint Staff RTARF ADM Itticom Bhamarasuta, Chief of Staff RTA LT GEN Kampanat Ruddit, Chief of Staff RTN VADM Pongthep Nhuthep dan Chief of Staff RTAF AM Chuchart Boonchai.

Sumber: TNI

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 27 Agustus 2014 | 20.32

GARUT - Uji coba terhadap roket RX 450 dan RX 320 di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berhasil. Dua roket yang tengah dikembangkan untuk program peluncuran satelit tersebut memenuhi target saat menjalani pengujian berbeda.

Kepala Pusat Teknologi Roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sutrisno mengatakan, roket RX 450 diuji statis sementara roket RX 320 diuji terbang (dinamis). Pengujian statis roket RX 450 ditujukan agar para peneliti LAPAN mengetahui performa motor roket.

"Hasilnya, uji statis terhadap RX 450 berhasil memenuhi target. Kami memprediksi durasi performa motor roket RX 450 adalah selama 18 detik. Namun hasil uji statis ini menunjukkan durasi waktunya mencapai 19,5 detik," kata Sutrisno di Garut, Jumat (22/8/2014).

Roket berkaliber 450 mm dengan panjang total 6.110 mm ini memiliki gaya dorong sekitar 12.895 kg. Roket yang menggunakan bahan bakar propelan komposit ini memiliki panjang motor 4.459 mm. "Setelah keberhasilan ini, kami akan mengagendakan uji terbang roket RX 450 di akhir 2014 mendatang," ujarnya.

Pengujian terbang roket RX 320 juga berhasil memenuhi harapan. Untuk alasan keamanan dan keselamatan jiwa para teknisi, peneliti, dan masyarakat di sekitar lokasi peluncuran, roket berdiameter 320 mm ini diterbangkan LAPAN pada kemiringan 70 derajat.

"Kami luncurkan di kemiringan 70 derajat. Jadi tidak tegak lurus. Namun, hasilnya cukup memuaskan. Berdasarkan data dari rekaman yang kami miliki, roket RX 320 berhasil terbang pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ketinggian ini cukup memenuhi target, karena hanya diluncurkan dalam posisi elevasi 70 derajat. Kalau diluncurkan dengan posisi tegak lurus, daya jangkaunya akan lebih jauh lagi," paparnya.

Menurut Sutrisno, RX 450 dan RX 320 merupakan jenis roket sonda. Roket sonda adalah roket yang biasa digunakan untuk misi meneliti parameter atmosfer, kelembaban temperatur, dan lainnya.

"Jadi, jika kita mampu menguasai teknologi roket sonda, meluncurkan satelit sendiri di kemudian hari bukan hal yang tidak mungkin lagi. Kami akan terus mencoba, meneliti, dan mengembangkan masing-masing roket sesuai tahapan-tahapannya. Karena untuk meluncurkan satelit pada ketinggian tertentu, diperlukan lebih dari satu roket atau bertingkat."

Sumber: Sindonews

Defence Media Center

Kementerian Pertahanan

PERHATIAN

"Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut"",

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURNAL PERTAHANAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger