Selamat Datang, Salam "BELA NEGARA" , "NKRI HARGA MATI"

KEBIJAKAN PERTAHANAN NEGARA

Lihat berita lainnya »

PERBATASAN

Lihat berita lainnya »

ALUTSISTA TNI

Lihat berita lainnya »

INDUSTRI PERTAHANAN

Lihat berita lainnya »

KERJASAMA DAN DIPLOMASI

Lihat berita lainnya »

PRODUK DALAM NEGERI

Lihat berita lainnya »

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label PRODUK DALAM NEGERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRODUK DALAM NEGERI. Tampilkan semua postingan

Badak, Panser Terbaru PT Pindad Dapat Respon Positif TNI-AD

Written By Jurnal Pertahanan on Kamis, 17 Desember 2015 | 19.28

Berhasil melakukan uji tembak dengan menggunakan cannon berkaliber 90 mm, panser terbaru PT Pindad yang diberi nama 'Badak' mendapat respon positif TNI-AD. Pihaknya langsung berencana untuk melakukan pemesanan sejumlah Badak.

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Mulyono mengungkapkan alasan pemesanan Badak ini selain meningkatkan kekuatan pertahanan juga untuk menggantikan beberapa alutsista yang sudah berusia lama. 

"Kami ada rencana menggantikan jajaran tank Saladin yang sudah tua dengan Badak buatan Pindad," ujar KASAD seperti dilansir merdeka.com, Kamis (17/12).

Pernyataan KASAD ini dibenarkan Direktur Komersial Pindad, Widjajanto. "Pada pekan lalu Badak dengan dukungan Dislitbang TNI AD telah sukses jalani uji tembak di Cipatat. Akurasi tinggi dan kondisi kendaraan tercatat stabil dalam berbagi posisi penembakan," ujar Widjajanto.

Badak merupakan produk kendaraan tempur terbaru buatan Pindad. Panser 6x6 ini memiliki turret 90mm hasil kerjasama Pindad dengan CMI Defense dari Belgia. 

Dalam paparannya Widjajanto menjelaskan kini staf Pindad telah menyelesaikan program Transfer of Technology dan telah mampu melakukan proses manufaktur turret 90mm. "Tinggal laras senjata 90mm yang kami import dari Belgia selebihnya dikerjakan oleh anak-anak negeri di pabrik kendaraan tempur Pindad di Bandung," tambahnya.

Pindad siap memproduksi Badak untuk tahun anggaran 2016. Sementara untuk kapasitas produksinya, Pindad mampu memproduksi Badak sebanyak 30 unit per tahun dan dapat ditingkatkan sesuai permintaan.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam membuat produk kendaraan tempur. Panser Canon 90mm 'Badak' buatan PT Pindad sukses menjalani uji tembak oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD) di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Kabupaten Bandung.

"Kami bersyukur uji penembakan yang dilakukan pada tanggal 10-12 Desember 2015, dinilai oleh pihak Dislitbang TNI AD berhasil dengan baik," kata Direktur Utama Pindad, Silmy Karim seperti ditulis Antara, Senin (14/12).

Panser Cannon 90 mm 'Badak' menjalani uji tembak dengan menggunakan 19 munisi kaliber besar 90 mm. Panser buatan anak-anak bangsa di Pindad itu melakukan serangkaian materi uji seperti dengan beberapa mata uji.

Pengujian pertama 'Zeroing' yakni proses penentuan arah senjata untuk masuk ke titik tengah sasaran, dengan menggunakan 10 butir munisi. Selanjutnya, penembakan arah jam 12 di mana turret dan kendaraan mengarah ke arah target, dengan menggunakan lima butir munisi, penembakan arah jam enam, di mana turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan berbalik 180 derajat, dengan menggunakan dua butir munisi.

Kemudian penembakan arah jam tiga di mana turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan menghadap ke kanan 90 derajat, dengan menggunakan dua butir munisi. Semua penembakan mengenai target sasaran berukuran 4x4 meter dengan jarak kurang lebih satu kilometer dan kondisi kendaraan yang stabil dan terkendali saat dilakukan penembakan.

"Hasil uji tembak dinilai berhasil dengan baik oleh pihak Dislitbang AD. Pencapaian ini meneguhkan komitmen kami dalam memproduksi kendaraan tempur yang handal dan teruji untuk memastikan performanya konsisten di setiap operasi," kata Silmy.

Rangkaian pengujian yang dilakukan terhadap purwarupa Panser Cannon 90 mm 'Badak' dilakukan untuk memastikan kualitas serta stabilitas kendaraan tempur untuk mendukung kinerja operasional yang maksimal di lapangan. Silmy menuturkan rangkaian uji Badak ini merupakan bagian dari proses sertifikasi untuk memastikan performa panser buatan anak-anak bangsa itu sudah sesuai dengan Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD.

Sumber: Riau Online

PT Len Pasok Alat Kominikasi Militer TNI AD

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 02 Desember 2015 | 17.42

BANDUNG – Setelah intensif dalam proses pengembangan, PT LEN Industri (Persero) mulai memasarkan produksi radio militernya dengan ditandai penyerahan 734 unit alat komunikasi tersebut kepada TNI AD di Bandung, Senin (30/11).
Menurut Dirut Len, Abraham Mose, penyerahan Alkom tersebut merupakan realisasi dari kontrak yang ditandatangani Mei lalu. Nilai pengerjaan kontrak Radio Manpack tipe LenVDR10-MP itu sebesar Rp 66 miliar.
“Sejak 2001, kita terus mengembangkan produk radio militer hingga bentuk prototype-nya. Ini untuk kali pertama kita memproduksi dalam jumlah banyak. Bagi kami ini peluang yang tak boleh disia-siakan,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa produk radio militer buatan dalam negeri itu bisa diandalkan terutama dari sisi keamanan saat melakukan komunikasi dan area jangkauan.
LenVDR10-MP menerapkan teknologi hopping 100 hop per second sehingga dalam 1 detik komunikasi terjadi perubahan frekuensi 100 kali. “Kita juga telah menggunakan enkripsi data berbasis AES 128,” jelasnya.
Selain itu, Len juga melakukan langkah strategis lainnya dalam kontrak dengan TNI AD berupa transfer teknologi guna pemeliharaan semua perangkat komunikasi yang dimiliki yang selama ini membutuhkan solusi.
Sumber:  SuaraMerdeka

Soal Beli Helikopter, TNI Diminta Konsisten Gunakan Produk Dalam Negeri

JAKARTA - Pemerintah melalui TNI Angkatan Udara (AU) membeli helikopter AgustaWestland AW101 untuk menggantikan helikopter Superpuma yang dinilai sudah tak layak menunjang aktifitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Anggota Komisi I DPR Sukamta menilai, pembelian alutsista sudah memiliki aturannya. Pertama kata dia, adalah keharusan untuk membeli produksi dalam negeri apabila sudah ada.

"Kami berharap TNI AU tetap konsisten menggunakan produk dalam negeri sesuai dengan UU (Undang-undang) Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan," ujar Sukmata memalui pesan singkat kepada Sindonews, Senin (30/11/2015).

Kemudian yang kedua kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, jika tidak ada produk dalam negeri maka harus ada kewajiban transfer of technology untuk kerja sama dengan industri lokal.

"Sesuai Pasal 43 Ayat 5 yaitu harus mengikut sertakan industri pertahanan dalam negeri, adanya kewajiban alih teknologi, adanya imbal dagang, mengikuti ketentuan kandungan lokal, aturan ofset dan lain-lain," ucap Sukamta.

Untuk melakukan hal tersebut, TNI kata dia harus mendapat izin dari presiden karena presiden adalah Ketua  Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) sesuai Pasal 22 dalam UU.

Yang ketiga menurut Sukamta, kalaupun akan dilakukan hal yang kedua, maka juga harus dilakukan prosedur tender dengan tidak menyebut nama.

"Saya berharap kita tidak mengambil opsi kedua. Majunya industri pertahanan ini membutuhkan komitmen bersama semua anak bangsa," tegas Sukamta.

Menurutnya, siapa lagi yang mau menggunakan produk dalam negeri, kalau bangsa sendiri tidak mau menggunakannya . Sukamta mengatakan, dengan membeli dari PT Dirgantara Indonesia (DI), maka 30 persen dari uang rakyat itu akan kembali ke negara.

"Setidaknya dalam bentuk pembelian bahan baku lokal, dan lebih 1.000 anak bangsa bisa melanjutkan hidupnya dari perusahaan ini. Kalau ada hal yang kurang, baik teknis maupun tata kelolanya, ya kita perbaiki bersama," tandas Sukamta.

Sumber: Sindonews

Anggota DPR Harapkan TNI Konsisten Gunakan Produk Dalam Negeri

Written By Jurnal Pertahanan on Senin, 30 November 2015 | 16.32

JAKARTA -- Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, terkait pembelian alutsista sudah memiliki aturan tersendiri. Menurutnya, keharusan membeli produksi dalam negeri harus dilakukan selama produk yang ada sesuai dengan kebutuhan.
"Kami brrharap TNI AU tetap konsisten menggunakan produk dalam negeri sesuai dengan UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan," kata Sukamta saat dikonfirmasi, Senin (30/11/2015).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menuturkan, kalaupun alutsista yang dibutuhkan tidak diproduksi di dalam negeri maka hendaknya harus ada kewajiban transfer of technology yakni kerjasama dengan industri lokal. Kerjasama dengan industri lokal itu menurutnya sesuai dengan Pasal 43 ayat 5 UU Industri Pertahanan.
"Isi dari Pasal 43 ayat 5 itu adalah harus mengikut sertakan industri pertahanan dalam negeri, adanya kewajiban alih teknologi, adanya imbal dagang, mengikuti ketentuan kandungan lokal, aturan ofset dan lain lain," tuturnya.
Masih kata Sukamta, majunya industri pertahanan membutuhkan komitmen bersama semua anak bangsa. Dikatakannya, dengan menggunakan produk dari PT Dirgantara Indonesia (DI) maka 30 persen dari uang rakyat akan kembali ke negara.
"Setidaknya dalam bentuk pembelian bahan baku lokal, dan lebih 1.000 anak-anak bangsa bisa melanjutkan hidupnya dari perusahaan ini. Siapa lagi yang mau menggunakan produk dalam negeri, kalau bangsa sendiri tidak mau menggunakannya," tandasnya.
Sumber: Tribunnews

TNI diminta mendahulukan penggunaan produk Industri Pertahanan Dalam Negeri

 JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia diminta mendahulukan penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri sebelum memilih produk luar negeri.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKS, Sukamta meminta TNI menggunakan produk-produk industri pertahanan dalam negeri, sehingga bisa lebih memberdayakan ekonomi lokal.
"Siapa lagi yang mau menggunakan produk dalam negeri kalau bangsa sendiri tidak mau menggunakannya," katanya di Jakarta, Senin (30/11/2015).
TNI Angkatan Udara merencanakan akan membeli sekitar delapan helikopter buatan luar negeri.
Namun Menko Polhukam Luhut Pandjaitan pada hari Minggu di Jakarta mengungkapkan bahwa rencana pembelian produk luar negeri itu akan dibahas kembali setelah Presiden Joko Widodo tiba di Tanah Air usai menghadiri KTT Bumi di Paris, Prancis.
Di antara beberapa pesawat helikopter itu, ada heli yang disiapkan sebagai sarana angkutan bagi Presiden dan Wapres Jusuf Kalla.
Sukamta mencontohkan apabila pemerintah dalam hal ini TNI membeli produk pertahanan dari PT. Dirgantara Indonesia maka 30 persen uang rakyat akan kembali ke negara.
Hal itu menurut dia dalam bentuk pembelian bahan baku lokal yang digunakan PT. DI dalam produksi alat-alat pertahanan.
"Lebih dari 1000 anak bangsa bisa melanjutkan hidup dari perusahaan tersebut (PT. DI)," ujarnya.
Sekretaris F-PKS itu menegaskan dibutuhkan komitmen bersama dalam menggunakan produk industri pertahanan dalam negeri.
Menurut dia, meskipun ada hal yang kurang baik dalam hal teknis maupun tata kelola industri pertahanan, harus diperbaiki bersama bukan malah mengambil opsi penggunaan produk luar.
"Majunya industri pertahanan ini membutuhkan komitmen bersama semua anak bangsa," ujarnya.
Dia menjelaskan soal pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) sudah ada aturannya, pertama keharusan membeli produksi dalam negeri.
Sukamta berharap pemerintah konsisten menjalankan amanat undang-undang untuk menggunakan produk dalam negeri.
"Kami berharap TNI AU tetap konsisten menggunakan produk dalam negeri sesuai dengan UU No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan," katanya.
Kedua menurut dia, apabila tidak ada produk dalam negeri maka harus ada kewajiban transfer teknologi melalui kerja sama dengan industri lokal.
Hal itu menurut dia sesuai dengan Pasal 43 ayat 5 UU Industri Pertahanan yang menyebutkan harus mengikut sertakan industri pertahanan dalam negeri, adanya kewajiban alih teknologi, adanya imbal dagang, mengikuti ketentuan kandungan lokal dan atau ofset paling rendah 85 persen.
"Untuk ini semua harus mendapat izin dari Presiden (Jokowi) karena Presiden adalah Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) sesuai pasal 22 dalam UU tersebut (UU Industri Pertahanan)," katanya.
Dia berharap, opsi kedua tidak diambil karena lebih baik memaksimalkan industri pertahanan dalam negeri.
Sumber: Bisnis.com

Kapal TNI AL KCR Trimaran Terbuat Dari Bahan Tahan Api dan Anti-radar

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 29 Oktober 2014 | 17.22

Banyuwangi - Pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, terus melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Terbaru, penjaga kedaulatan maritim Indonesia ini memesan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter, yang diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest, sebuah perusahaan galangan kapal kebanggaan nasional yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio berkesempatan meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Jumat (24/10). Turut mendampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma.

"Kunjungan hari ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara,” kata Marsetio, di Banyuwangi, Jumat (24/10).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero).

"Untuk tahap pertama TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama,” ujar Marsetio.

Desain Kapal KCR Trimaran yang terbaru ini akan sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini juga akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar.

"Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT. Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri,” imbuh Marsetio.

Sebagai informasi, saat ini PT. Lundin tengah membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran 63 meter untuk TNI AL. Pembangunan kapal ini merupakan pembangunan yang kedua kalinya, yakni sebagai pengganti kapal sebelumnya "KRI Klewang-625" yang terbakar pada September 2012 sebelum diserahkan ke TNI AL.

KCR Trimaran ini berdesain unik "wave piercing" yang bisa tetap stabil di tengah kondisi cuaca buruk. Kapal ini juga bisa terhindar dari radar maupun infra merah.

Dalam kesempatan ini, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan.

"Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," kata Anas.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi.

"Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," pungkas Anas.

Sumber: Berita Satu

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 27 Agustus 2014 | 20.32

GARUT - Uji coba terhadap roket RX 450 dan RX 320 di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berhasil. Dua roket yang tengah dikembangkan untuk program peluncuran satelit tersebut memenuhi target saat menjalani pengujian berbeda.

Kepala Pusat Teknologi Roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sutrisno mengatakan, roket RX 450 diuji statis sementara roket RX 320 diuji terbang (dinamis). Pengujian statis roket RX 450 ditujukan agar para peneliti LAPAN mengetahui performa motor roket.

"Hasilnya, uji statis terhadap RX 450 berhasil memenuhi target. Kami memprediksi durasi performa motor roket RX 450 adalah selama 18 detik. Namun hasil uji statis ini menunjukkan durasi waktunya mencapai 19,5 detik," kata Sutrisno di Garut, Jumat (22/8/2014).

Roket berkaliber 450 mm dengan panjang total 6.110 mm ini memiliki gaya dorong sekitar 12.895 kg. Roket yang menggunakan bahan bakar propelan komposit ini memiliki panjang motor 4.459 mm. "Setelah keberhasilan ini, kami akan mengagendakan uji terbang roket RX 450 di akhir 2014 mendatang," ujarnya.

Pengujian terbang roket RX 320 juga berhasil memenuhi harapan. Untuk alasan keamanan dan keselamatan jiwa para teknisi, peneliti, dan masyarakat di sekitar lokasi peluncuran, roket berdiameter 320 mm ini diterbangkan LAPAN pada kemiringan 70 derajat.

"Kami luncurkan di kemiringan 70 derajat. Jadi tidak tegak lurus. Namun, hasilnya cukup memuaskan. Berdasarkan data dari rekaman yang kami miliki, roket RX 320 berhasil terbang pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ketinggian ini cukup memenuhi target, karena hanya diluncurkan dalam posisi elevasi 70 derajat. Kalau diluncurkan dengan posisi tegak lurus, daya jangkaunya akan lebih jauh lagi," paparnya.

Menurut Sutrisno, RX 450 dan RX 320 merupakan jenis roket sonda. Roket sonda adalah roket yang biasa digunakan untuk misi meneliti parameter atmosfer, kelembaban temperatur, dan lainnya.

"Jadi, jika kita mampu menguasai teknologi roket sonda, meluncurkan satelit sendiri di kemudian hari bukan hal yang tidak mungkin lagi. Kami akan terus mencoba, meneliti, dan mengembangkan masing-masing roket sesuai tahapan-tahapannya. Karena untuk meluncurkan satelit pada ketinggian tertentu, diperlukan lebih dari satu roket atau bertingkat."

Sumber: Sindonews

Kapal Angkut Tank Leopard Produksi Swasta Dalam Negeri Akan Tampil Dalam HUT TNI

Bandar Lampung - KRI Teluk Bintuni, kapal perang jenis angkut Tank pesanan TNI AL yang merupakan produksi galangan kapal dari Lampung yakni PT DRU, dijadwalkan akan dipamerkan langsung di hadapan Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono.

"Kapal ini direncanakan jadi maskot yang tampil pada pawai kapal perang yang dimiliki oleh Angkatan Laut saat Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada Oktober 2014 mendatang di Surabaya," kata General Manager PT DRU Lampung Harryadi (40) kepada Saibumi.com.

Lebih lanjut Harry, begitu dia biasa disapa, KRI Teluk Bintuni ini menjadi bukti bahwa galangan kapal milik Indonesia terutama swasta sanggup untuk membuat kapal untuk memenuhi keperluan alat utama sistem senjata (alutsista).

"Sesuai dengan keinginan Pak SBY supaya industri pertahanan dalam negeri kita dapat mengurangi ketergantungan persenjataan dari negara luar. Minimal bahan pembuatnya lokal semua dan secara kualitas tidak kalah dengan produk luar," tambahnya.

Keberhasilan pembuatan kapal perang khusus pengangkut tank ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa industri maritim Indonesia mampu membuat kapal perang sendiri. "Dan jadi kebanggaan khusus bagi masyarakat Lampung karena di Pulau Sumatera hanya ada satu yakni di Lampung untuk perusahaan pembuat kapal perang," katanya lagi.

"Sebelumnya kami sudah pernah dipercaya memperbaiki KRI Kala Hitam. Pernah juga perbaiki KMP Kelimutu, dan sebagainya. Kami juga sudah pernah membuat kapal tanker, kapal ferry, kapal kargo, kapal fiber (Fibre Reinforced Plastic Boat /FRP), kapal kontainer dan kapal pesiar jenis cruise. Pengalaman itu yang membuat kami, pihak swasta pertama di Indonesia, dipercaya Kemenhankam RI membuat kapal ini di Lampung," pungkasnya.

Mempertunjukkan langsung kapal tersebut dihadapan Presiden SBY boleh jadi sebagai pembuktian dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PT DRU. Karena penandatanganan kontrak pembangunan jenis kapal angkut tank atau Landing Shift Tank (LST) bersama TNI Angkatan Laut itu dilakukan langsung dihadapan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono. Dilaksanakan pada pembukaan pameran RITECH yang diadakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).


Sumber: www.saibumi.com

Kapal Angkut Tank Leopard Produksi Dalam Negeri Akan Diluncurkan

Bandar Lampung - Tiga hari menjelang peluncuran kapal perang khusus pengangkut tank, KRI Teluk Bintuni ke laut. KRI Teluk Bintuni yang merupakan produksi galangan kapal dari Lampung yakni PT DRU.

“Dijadwalkan launching Kamis, 28 Agustus 2014. Semoga tidak terjadi apa-apa sehingga tidak mundur dan cuaca juga bersahabat saat acara peluncuran kapal tersebut ke laut bisa berjalan dengan lancar,” ungkap Kepala Bagian Umum PT DRU Yahya kepada Saibumi.com.

Ia menyampaikan peluncuran kapal pesanan Kementerian Pertahanan dan Keamanan tersebut akan dilakukan malam hari. “Dimulai acaranya pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai dan rencananya juga akan ada kembang api,” ujarnya.

Untuk acara launching kapal yang baru pertama kali pihak swasta (yakni PT DRU) diberi kepercayaan besar untuk membuat kapal perang untuk Angkatan Laut akan dihadiri tamu-tamu penting. “Yang diundang itu antara lain Menteri Pertahanan, Kepala Staf Angkatan Laut, dan Panglima Armada Bagian Barat. Kalau dari Provinsi Lampung sendiri ada Gubernur Lampung, Kapolda Lampung, Komandan Angkatan Laut, Komandan Brigadir Infantri, Walikota Bandar Lampung, Dinas Perhubungan Laut, Pelabuhan Indonesia dan Asosiasi Pelayaran Indonesia,” beber Yahya

Sebelumnya KRI Teluk Bintuni adalah kapal jenis Landing Shift Tank (LST). Kapal perang yang didesain mampu mendarat langsung dipantai ini khusus untuk angkut tank jenis Leopard yang didatangkan dari Jerman. Untuk tahap pertama, Angkatan Laut membuat tiga kapal angkut tank. Untuk kapal angkut tank 1 dan 2 dikerjakan oleh BUMN. Sedangkan pengerjaan kapal angkut tank 3 dipercayakan kepada PT DRU Lampung. Diberi nama KRI Teluk Bintuni dan dari ketiga kapal, hanya KRI Teluk Bintuni yang hampir selesai pengerjaannya.(*)



Sumber: www.saibumi.com

KRI Tombak-629 Buatan PT PAL Mampu Menghindar Dari Pukulan Balasan Lawan

Surabaya -- Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Tombak-629 memperkuat Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Koarmatim, setelah diresmikan oleh Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro di Dermaga Divisi Kapal Perang PT PAL Surabaya, Rabu (27/8/2014).

Acara peresmian dihadiri oleh Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim, Dirut PT PAL Indonesia (Persero) Ir. Firmansyah Arifin, pejabat teras Mabesal dan Koarmatim.

Setelah diresmikan oleh Menhan KRI Tombak memperkuat Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL di bawah pembinaan Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim. KRI Tombak-629 merupakan jenis Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 meter, memiliki keunggulan khusus yakni mampu beroperasi di berbagai medan. Adapun spesifikasi teknis KRI Tombak-629 yaitu Kapal Cepat Rudal 60M, diawaki 55 personel,di antaranya meriam dan peluncur rudal, panjang 60,00 m, lebar 8,10 M dan kecepatan 28 knots.

Kapal perang ini didisain memiliki kemampuan olah gerak yang tinggi, lincah dalam menempati posisi tembak, dan mampu melaksanakan penghindaran dari pukulan balasan lawan. Selain itu, KRI Tombak-629 memiliki ketahanan bernavigasi dalam segala cuaca, hingga Sea State 6.

Menurut Menhan Purnomo Yusgiantoro, bahwa kapal buatan PT PAL ini adalah KCR-60 meter kedua yang masuk jajaran Koarmatim. KCR pertama, yakni KCR-60M KRI Sampari-628 telah diresmikan dan diserahterimakan pada tanggal 28 Mei 2014 yang lalu.

Kehadiran KCR-60 meter kedua yang telah diserahterimakan ini, sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) I 2009-20014, yang akan memenuhi kebutuhan pokok minimum TNI, dan akan memperkuat jajaran Satkat Koarmatim.

Keberadaan KCR-60 meter ini, berdasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis yang cukup mendalam benar-benar diperlukan untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan dan penegakan hukum wilayah NKRI, tegasnya. Bertindak sebagai Komandan KRI Mayor Laut (P) Dickry Rizanny Nurdiansyah, PSC (J), MMDS., yang dilantik secara resmi oleh Menhan RI.

Satu Lagi, Kapal Perang Buatan PT PAL Perkuat Alutsista TNI AL

Surabaya - TNI AL kembali memperkuat kekuatan armada lautnya untuk mengamankan wilayah NKRI. Hari ini Rabu (27/8), disaksikan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, TNI AL menerima Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 M dari PT PAL Indonesia (Persero), sebagai pelengkap Alutsista TNI AL.

Hadir dalam upacara serah terima kapal kedua yang diberi nama KRI Tombak 629 dari PT PAL Indonesia kepada TNI AL itu, selain menteri pertahanan, juga hadir Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Marsetio, Kasum TNI serta pejabat-pejabat Kem BUMN, Kemhan, dan Pati TNI AL.

Menurut Laksamana Pertama TNI, Manahan Simorangkir, KRI Tombak 629 ini, merupakan Kapal Cepat Rudal kedua hasil dari pengembangan Kapal Patroli Cepat (FPB-57), yang telah dibuat oleh PT PAL Indonesia, sebagai BUMN yang diberikan amanat oleh Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012.

"KCR 60 meter yang sebelumnya sudah diserahkan PT PAL adalah KRI Sampari 628 pada Mei lalu, kemudian yang kedua adalah KRI Tombak 629, yang diserahkan hari ini (27/8). Untuk selanjutnya, KCR 60 meter yang ketiga dengan nomor pembangunan W000275 akan diserahkan pada medio September mendatang," katanya disela upacara serah terima yang digelar di Pangkalan Armada Timur TNI AL, Surabaya, Jawa Timur.

Kapal KCR 60 meter itu sendiri, dibuat sejak 13 Februari tahun 2013 lalu, dan didesain dengan kemampuan olah gerak yang tinggi, lincah dalam menempati posisi tembak, dan mampu melaksanakan penghindaran dari serangan balik lawan serta memiliki ketahanan bernavigasi dalam segala cuaca.

Kapal ini juga sudah lulus uji coba dalam Sea Trail oleh Dinas Material Angkatan Laut. Sedangkan nama KRI Tombak, diambil dari salah satu nama senjata tradisional rakyat Jawa, sehingga kapal juga dibentuk runcing seperti tombak.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro berharap, KRI Tombak 629, untuk ke depannya bisa membantu pasukan untuk menjaga NKRI dari serangan asing. "Kapal ini dibuat dengan uang rakyat melalui APBN. Saya harap para awak kapal KRI Tombak bisa melaksanakan tugasnya," harap dia.

Nantinya, lanjut Purnomo, dalam waktu dekat akan ada penyerahan kapal buatan anak negeri lagi, yakni KRI Halasan 630 yang kini masih dalam proses penyelesaian. "Kita tunggu nanti, penyerahan kapal berikutnya," tandas Purnomo.

Sumber: Merdeka.Com

Panser Anoa, Alat Tempur "Matic" Buatan Pindad

Written By Jurnal Pertahanan on Selasa, 19 Maret 2013 | 00.52

Photo:Wikipedia
Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) produksi dalam negeri kini mulai diminati negara-negara luar negeri. Salah satu produsen dalam negeri paling dilirik adalah PT Pindad (Persero). Menurut Kepala Sekretaris Perusahaan PT Pindad, Iwan Kusdiana, PT Pindad memproduksi sejumlah peralatan, di antaranya senjata, munisi, dan panser. Salah satu paling diminati selain senjata, adalah Panser Anoa.

Iwan menjelaskan, Panser Anoa buatan PT Pindad ini dibuat dengan mesin automatic. "Ini sudah matic. Jadi seperti kita mengendarai Honda Jazz atau lainnya posisi di D itu dia sudah jalan sendiri. Mesinnya kita pakai Renault, transmisinya ZR, sehingga bisa dikendarai dengan sistem otomatis," kata Iwan di PT Pindad, Bandung, Jawa Barat  bulan Oktober 2012.

Cuma bedanya, lanjut Iwan, bagaimana pun juga Panser Anoa merupakan kendaraan tempur, di mana saat melaju di medan-medan yang sangat extrem seperti di lumpur atau lainnya, maka tidak direkomendasikan di posisi D. "Kita rekomen posisi 1 atau 2 untuk menyeimbangkan dengan medannya," kata dia.

Iwan menjelaskan, mesin matic Panser Anoa bisa diatur dalam posisi full otomatis atau dibatasi gigi otomatisnya. "Jadi kalau di lokasi extrem dia bisa main di posisi 1 atau posisi 2, tidak perlu diatur sampai full otomatis," ujar dia.

Menurutnya, negara-negara luar memang menunjukkan ketertarikannya terhadap Panser Anoa ini. Dan PT Pindad juga akan melakukan kustomisasi sesuai permintaan negara berminat. "Misalnya Filipina, dia minta mesinnya pakai mesin Mercy. Jadi kita sesuaikan permintaan dia," kata dia.

Meski begitu, Iwan mengakui, belum ada satu negara pun yang sudah deal untuk membeli alutsista buatan PT Pindad, khususnya Panser Anoa. Semua masih dalam tahap penjajakan.

"Belum ada deal. Yang sudah ada deal itu cuma dari dalam negeri. Negara luar yang sudah penjajakan, itu Malaysia, kemarin dia minta 31 Panser Anoa. Brunei Darussalam 10 buah. Ada juga dari Irak. Kalau fix, nanti ada kontrak pembelian," ujar Iwan.

Anoa Paling Laris

Panser Anoa menjadi produksi PT Pindad yang paling laris terjual. Meski, pembelinya masih dalam negeri, seperti TNI dan Polri. Bahkan, karena Anoa ini, penjualan PT Pindad menjadi melambung. "Secara penjualan sedikit, tapi omzetnya besar. Kita sampai 2008, ada omzet Rp1,13 triliun. Karena itu penjualan PT Pindad didongkrak oleh penjualan Anoa," ujar Iwan.

"Itu omzet dalam negeri saja. Karena harga untuk luar negeri itu beda," ujarnya.

Pada tahun 2008, dia menambahkan, TNI memesan 154 buah Panser Anoa berbagai tipe. Untuk tahun 2011 TNI memesan 11 Panser Anoa tipe APC. "Tahun ini pesan 61 unit," kata dia.

"Tipe Anoa itu ada tipe APC, Ambulan, Recovery, Logistik, Amunisi. Itu sudah tersebar di berbagai Kodam. Siliwangi, Makassar, Timika, dan lain-lain," ujarnya.

Iwan menjelaskan, Panser Anoa memang digunakan untuk pengamanan juga. "Biasanya pengamanan tamu-tamu penting VVIP atau ada kunjungan Presiden keluar kota," ujar Iwan.

Sumber: vivanews


Kendaraan tempur pengangkut personil (APC : Armoured personal carrier) dengan sistem penggerak 6 roda simetris, dirancang khusus untuk kebutuhan ALUTSISTA TNI-AD khususnya satuan kavaleri Dirancang dan di produksi oleh anak bangsa khusus untuk TNI, Ukuran dan operasional di sesuaikan dengan bentuk tubuh TNI dan doktrin dan taktik tempur TNI sebagai komitmen pindad dalam pemenuhan seluruh alutsista TNI Panser ini dapat mengangkut 10 personil dengan 3 orang kru, 1 driver 1 commander dan 1 gunner. dilengkapi dengan mounting senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.

Specification
220Hp, 2500 Rpm
650 Nm, 1300 -1600 Rpm
650 Nm, 1300 -1600 Rpm
Compression Ratio
19.5
 
Model
ZF S6 - 680
Type
Manual

6 Forward , 1 reverse
Gear Ratio
1st 2nd 3rd 4th 5th 6th Reverse
Axle
Model
ZF S6 - 680
Axle qty
3

Semua bergerak
Axle steer
2 axle , depan dan tengah
Steering
Menggunakan sistem Hidrolik
Suspension
Independent suspension menggunakan torsion bar

Service
sistem Disc brake
Parking
Integral to drive line, Spring activated,hydraulically released
Electrical sistem
Battery
24 Volt 85 Ah ( 4 pcs x 12v)
Wheel &Tire
1400 R20 / 18Ply
 
Velg R20
BBM Capasity
160 ltr
Body Construction

Armoured steel tebal 10 mm
Floor
Mild steel tebal 10 mm

Besi square tebal 3,5 x 40 x40 mm
Glass
Armoured glass tebal 30 mm
Exit Acces

sistem mekanik torsi bar

Ramp door sistem hidrolik dan swing mekanik
Man Hole
5 unit sistem mekanik torsi bar pada roof bodi
Emergensi door
Masing-masing 1 unit pada sisi kiri dan kanan bodi
Armament
Gun mounting
1 unit untuk kaliber 12,7 mm
Granade asap
Cal. 60 mm, masing-masing 3 buah pada sisi kanan

4 lubang tembak pada sisi kanan


-5o ? 45O

360o
Weapon
1 x 12,7 mm
Amunition
500 x 12,7 mm
Air conditioner
12 Pk , 3 unit blower
Fire Extinguisher Tool
3 unit , 1 unit to front & 2 unit to back
Pioneer Tool
1 buah linggis , 1 buah singkup , 1 buah kapak ,
Equipment
Indicator
Baterai ,Tekanan minyak lumas, Temp. air pendingin
Lamp
Lampu Tempur ( black out ) 2 bh di depan, 2 bh di belakang

Communication Port
Document Bag


 
Performance  
Max Speed
92 km /hr
 
45o
 
45o
Side Slope
35%
Gradient
60%
 
0,6 m
 
1,5 m
OPTION ALKOM  
Radio HF  
- Frequency area
2 - 30 Mhz
- Frequency Reference
HF-90M/INA (komersial tipe 718)
- Burst
100 Watt ( with PA)
- Antenna
3 m with Automatic Antenna Tuner
Radio VHF  
- Frequency area
30 - 88 Mhz
- Frequency Reference
PR1077, atau VHF-90M/INA
- Burst
50 Watt ( with PA)
- Antenna
3 m with Automatic Antenna Tuner
Master Communication Control  
- Radio I/O
Max 2 port (two way audio,PTT/Squels)
- Audio I/O
Communication bus ( Multiwire )
- Crew control sig
Communication bus
- PS Input
24 VDC dari PSU
- PS ke Crew
Communication bus 24 VDC
Powered By Blogger

Defence Media Center

Kementerian Pertahanan

HARI BELA NEGARA 2015

HARI BELA NEGARA 2015

PERHATIAN

"Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut"

Terima kasih

Admin

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURNAL PERTAHANAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger