Selamat Datang, Salam "BELA NEGARA" , "NKRI HARGA MATI"

KEBIJAKAN PERTAHANAN NEGARA

Lihat berita lainnya »

PERBATASAN

Lihat berita lainnya »

ALUTSISTA TNI

Lihat berita lainnya »

INDUSTRI PERTAHANAN

Lihat berita lainnya »

KERJASAMA DAN DIPLOMASI

Lihat berita lainnya »

PRODUK DALAM NEGERI

Lihat berita lainnya »

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label INDUSTRI PERTAHANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDUSTRI PERTAHANAN. Tampilkan semua postingan

Badak, Panser Terbaru PT Pindad Dapat Respon Positif TNI-AD

Written By Jurnal Pertahanan on Kamis, 17 Desember 2015 | 19.28

Berhasil melakukan uji tembak dengan menggunakan cannon berkaliber 90 mm, panser terbaru PT Pindad yang diberi nama 'Badak' mendapat respon positif TNI-AD. Pihaknya langsung berencana untuk melakukan pemesanan sejumlah Badak.

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Mulyono mengungkapkan alasan pemesanan Badak ini selain meningkatkan kekuatan pertahanan juga untuk menggantikan beberapa alutsista yang sudah berusia lama. 

"Kami ada rencana menggantikan jajaran tank Saladin yang sudah tua dengan Badak buatan Pindad," ujar KASAD seperti dilansir merdeka.com, Kamis (17/12).

Pernyataan KASAD ini dibenarkan Direktur Komersial Pindad, Widjajanto. "Pada pekan lalu Badak dengan dukungan Dislitbang TNI AD telah sukses jalani uji tembak di Cipatat. Akurasi tinggi dan kondisi kendaraan tercatat stabil dalam berbagi posisi penembakan," ujar Widjajanto.

Badak merupakan produk kendaraan tempur terbaru buatan Pindad. Panser 6x6 ini memiliki turret 90mm hasil kerjasama Pindad dengan CMI Defense dari Belgia. 

Dalam paparannya Widjajanto menjelaskan kini staf Pindad telah menyelesaikan program Transfer of Technology dan telah mampu melakukan proses manufaktur turret 90mm. "Tinggal laras senjata 90mm yang kami import dari Belgia selebihnya dikerjakan oleh anak-anak negeri di pabrik kendaraan tempur Pindad di Bandung," tambahnya.

Pindad siap memproduksi Badak untuk tahun anggaran 2016. Sementara untuk kapasitas produksinya, Pindad mampu memproduksi Badak sebanyak 30 unit per tahun dan dapat ditingkatkan sesuai permintaan.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia kembali menunjukkan taringnya dalam membuat produk kendaraan tempur. Panser Canon 90mm 'Badak' buatan PT Pindad sukses menjalani uji tembak oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD) di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Kabupaten Bandung.

"Kami bersyukur uji penembakan yang dilakukan pada tanggal 10-12 Desember 2015, dinilai oleh pihak Dislitbang TNI AD berhasil dengan baik," kata Direktur Utama Pindad, Silmy Karim seperti ditulis Antara, Senin (14/12).

Panser Cannon 90 mm 'Badak' menjalani uji tembak dengan menggunakan 19 munisi kaliber besar 90 mm. Panser buatan anak-anak bangsa di Pindad itu melakukan serangkaian materi uji seperti dengan beberapa mata uji.

Pengujian pertama 'Zeroing' yakni proses penentuan arah senjata untuk masuk ke titik tengah sasaran, dengan menggunakan 10 butir munisi. Selanjutnya, penembakan arah jam 12 di mana turret dan kendaraan mengarah ke arah target, dengan menggunakan lima butir munisi, penembakan arah jam enam, di mana turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan berbalik 180 derajat, dengan menggunakan dua butir munisi.

Kemudian penembakan arah jam tiga di mana turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan menghadap ke kanan 90 derajat, dengan menggunakan dua butir munisi. Semua penembakan mengenai target sasaran berukuran 4x4 meter dengan jarak kurang lebih satu kilometer dan kondisi kendaraan yang stabil dan terkendali saat dilakukan penembakan.

"Hasil uji tembak dinilai berhasil dengan baik oleh pihak Dislitbang AD. Pencapaian ini meneguhkan komitmen kami dalam memproduksi kendaraan tempur yang handal dan teruji untuk memastikan performanya konsisten di setiap operasi," kata Silmy.

Rangkaian pengujian yang dilakukan terhadap purwarupa Panser Cannon 90 mm 'Badak' dilakukan untuk memastikan kualitas serta stabilitas kendaraan tempur untuk mendukung kinerja operasional yang maksimal di lapangan. Silmy menuturkan rangkaian uji Badak ini merupakan bagian dari proses sertifikasi untuk memastikan performa panser buatan anak-anak bangsa itu sudah sesuai dengan Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD.

Sumber: Riau Online

Gandeng Perusahaan Pertahanan Belgia, Pindad Kembangkan Panser "Badak"

Written By Jurnal Pertahanan on Selasa, 15 Desember 2015 | 19.38

Jakarta -PT Pindad (Persero) telah mengembangkan dan memproduksi panser roda 6 bernama Anoa 6X6. Panser yang laris manis ini telah dipakai oleh TNI untuk misi di dalam dan luar negeri. 

Tak berhenti sampai di situ, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pertahanan ini, mengembangkan panser dengan senjata berat jenis canon. Panser ini diberi nama 'Badak'. 

Beda dengan Anoa yang lebih diperuntukan untuk angkut personil dan dilengkapi senjata ringan, Panser 'Badak' dilengkapi senjata berat jenis canon 90 mm di atas turret.

"Ini pengembangan dari Anoa ke Badak. Ini dilengkapi dengan senjata kaliber besar. Turret-nya ini kaliber 90 mm," kata Kepala Humas Pindad, Herdantono kepada detikFinance, Selasa (15/12/2015).

Konsep Panser badak mirip dengan tank namun bedanya ada di roda. "Badannya seperti tank, tapi ini roda ban. Tapi basic-nya memang panser," tambahnya

Untuk pengembangan turret atau canon, Pindad menggandeng perusahaan pertahanan dari Belgia yakni CMI Defence. CMI dinilai memiliki kemampuan kelas dunia dalam memproduksi turret.

"Kita kerja sama teknologi nggak dari awal, ini ada skema TOT (Transfer of technology). Tujuannya dari kita awal selalu ketinggalan," jelasnya.

Saat di medan tempur, Panser Badak bisa menahan tembakan dengan amunisi 12,7 mm. Saat ini, Panser Badak sedang melalui proses uji untuk memperoleh sertifikasi dari Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat. 

Rencananya, produksi massal dilakukan pada triwulan I-2016 setelah lolos sertifikasi.

Sumber: Detik

PT Len Pasok Alat Kominikasi Militer TNI AD

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 02 Desember 2015 | 17.42

BANDUNG – Setelah intensif dalam proses pengembangan, PT LEN Industri (Persero) mulai memasarkan produksi radio militernya dengan ditandai penyerahan 734 unit alat komunikasi tersebut kepada TNI AD di Bandung, Senin (30/11).
Menurut Dirut Len, Abraham Mose, penyerahan Alkom tersebut merupakan realisasi dari kontrak yang ditandatangani Mei lalu. Nilai pengerjaan kontrak Radio Manpack tipe LenVDR10-MP itu sebesar Rp 66 miliar.
“Sejak 2001, kita terus mengembangkan produk radio militer hingga bentuk prototype-nya. Ini untuk kali pertama kita memproduksi dalam jumlah banyak. Bagi kami ini peluang yang tak boleh disia-siakan,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa produk radio militer buatan dalam negeri itu bisa diandalkan terutama dari sisi keamanan saat melakukan komunikasi dan area jangkauan.
LenVDR10-MP menerapkan teknologi hopping 100 hop per second sehingga dalam 1 detik komunikasi terjadi perubahan frekuensi 100 kali. “Kita juga telah menggunakan enkripsi data berbasis AES 128,” jelasnya.
Selain itu, Len juga melakukan langkah strategis lainnya dalam kontrak dengan TNI AD berupa transfer teknologi guna pemeliharaan semua perangkat komunikasi yang dimiliki yang selama ini membutuhkan solusi.
Sumber:  SuaraMerdeka

Legislator Berharap Pemerintah Prioritaskan Produk Industri Pertahanan Dalam Negeri

Written By Jurnal Pertahanan on Kamis, 09 Juli 2015 | 00.13

Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, berharap rencana pemerintah memperbaruhi alat utama sistem pertahanan (alutsista) dengan memprioritaskan produk-produk dalam negeri. Dia juga mendukung rencana TNI AU yang akan mengganti pesawat angkut Hercules yang sudah uzur dengan pesat angkut jenis baru.

Namun, dia mengingatkan bahwa TNI AU harus memprioritaskan pembaruan tersebut dengan produk dalam negeri. "Bagus donk. Silahkan mana yang terbaik dan memenuhi persyaratan untuk TNI. Merk apa saja DPR tak akan ikut campur urusan pengadaan, kalau bisa produk dalam negeri," kata TB Hasanuddin saat dihubungi, Rabu (8/7/2015).

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, mengungkapkan bahwa PT Dirgantara Indonesia (DI) mempunyai kemampuan untuk membangun pesawat angkut militer yang tidak kalah hebat dengan produk luar negeri. Sebab, ungkap dia, produk PT DI juga sudah diakui oleh dunia Internasional. "Untuk angkut berat seperti Hercules, PT DI sudah bisa memproduksi namanya A 400 M bekerja sama dengan Spanyol," ungkapnya.

Dia melanjutkan, prodak yang sudah mendapat pengakuan secara Internasional itu tinggal disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh TNI AU. Begitu juga terhadap pembaruan alutsista lainnya yang bisa juga diproduksi oleh PT DI dan PT Pindad, dimana sama-sama memproduksi alat pertahanan. "Tinggal spek-nya disesuaikan. Kalau spek-nya ya tanya TNI AU yang lebih tahu," imbuhnya.

Dia menambahkan, penggunaan produk dalam negeri akan sangat berdampak terhadap industri dalam negeri dan pendapatkan devisa negara ke depannya apabila negara-negara lain ingin mengekspor produk pertahanan Indonesia. "PT DI maju dan diakui negara lain, lalu berpengaruh terhadap ekonomi dan tenaga kerja," tukasnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskom) Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Brigjen Jundan Eko Bintoro, memastikan pihaknya telah menyepakati pembelian pesawat angkut antara A-400 atau C17 untuk menggantikan Hercules.

Dia beralasan, kedua pesawat tersebut lebih besar dan sesuai dengan rencana strategis (Renstra) TNI. "Keduanya sekelas, sekarang sudah disepakati kalau pengadaan mengutamakan yang baru, yang sudah terlanjur apa boleh buat ya sudah dilakukan," papar Jundan saat dikonfirmasi, Selasa (7/7).

Meski demikian, pengadaan pesawat tersebut baru bisa dilakukan pada 2016 hingga 2018. Jundan menambahkan, pihaknya juga belum bisa memastikan jumlah yang akan dipesan oleh pemerintah."Pengadaan di Renstra II kemungkinan 2016 sampai 2018," pungkasnya.

Sumber: Harian Terbit

Dirut Pindad: Industri Pertahanan Harus Dikembangkan

Written By Jurnal Pertahanan on Selasa, 07 Juli 2015 | 20.41


Direktur Utama PT Pindad, Silmy Karim menilai ada dua pilihan untuk memperbaharui Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI. Pertama membeli ke negara lain dan kedua memproduksi sendiri.

"Ketika kita beli, itu menurut kami belum riil. Karena masih tergantung negara lain. Dari 20 negara besar kekuatan ekonomi dunia, Indonesia nomor 16. Dimana industri pertahanan kita?" cetus Silmy di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/7)

Memang, diakui Silmy, Indonesia mempunyai pengalaman terbaik dalam perang gerilya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah Indonesia mempunyai pengalaman perang di laut maupun udara. Selain itu, peperangan sekarang dengan 30 tahun yang lalu jelas berbeda.

"Terus apakah kita sudah mengkaji ancaman terhadap negara kita? Ini harus dikembangkan dengan industri pertahanan," sambungnya.

Menurutnya, industri pertahanan di Indonesia memang harus dikembangkan. Apalagi industri tersebut bernaung di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


Sumber: Skalanews

Industri Galangan Kapal Maju, Negara Hemat Rp 15 T

Written By Jurnal Pertahanan on Senin, 29 Juni 2015 | 16.26

Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin serius mengembangkan industri galangan kapal di dalam negeri. Menurutnya bila industri ini berkembang, Indonesia bisa menghemat devisa US$ 1,25 miliar atau Rp 15 triliun per tahun.

"‎Urgensi pengembangan industri galangan atau shipyard juga agar kita bisa menghemat US$ 1,25 miliar atau Rp 15 triliun per tahun‎ dibanding jika mengimpor kapal selama ini. Berarti ini sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan yang diakibatkan dari pembelian kapal impor," ujar Saleh dalam keterangannya, Senin (29/6/2015).

Ia mengatakan penghematan tersebut didapat karena Indonesia tak akan lagi mengimpor kapal bila industri galangan kapal dalam negerinya berkembang. ‎Selain itu juga meningkatkan industri pendukung perkapalan di dalam negeri seperti perbankan nasional, lembaga pembiayaan, asuransi, dan komponen. 

"Apalagi, langkah strategis ini sesuai Nawa Cita pemerintahan kita. Pak Jokowi bahkan telah langsung menginstruksikan agar kementerian, lembaga dan BUMN wajib membeli kapal dari galangan dalam negeri," ujarnya.

Ia mencontohkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memperhitungkan pembelian kapal-kapal dalam lima tahun ke depan. Sedangkan perusahaan-perusahaan BUMN membutuhkan kapal sebanyak 80 unit. 

"Dari situ, terlihat jelas bagaimana dahsyatnya dampak pembelian kapal ke galangan kapal nasional," ujarnya.

Di Indonesia, terdapat 250 galangan kapal. Sebanyak 105 perusahaan berada di Batam dan 145 unit di luar Batam. Menperin juga memastikan dukungan bahan baku berupa baja untuk industri galangan ‎kapal. 

"Produk baja dari PT Krakatau Steel dan Krakatau Posco telah mumpuni mendukung industri ini. Intinya kita siap, apalagi sudah didukung dan diperintahkan Presiden," tegasnya.

Sumber: Detik

Republik Djibouti Minati Kapal Perang Landing Craft Unit Buatan Indonesia

Written By Jurnal Pertahanan on Senin, 08 Juni 2015 | 05.57


Jakarta - KRI Banjarmasin-592 yang berlayar menuju Italia juga sempat singgah di Negara Republik Djibouti. Saat bersandar, negara yang terletak di Afrika Timur itu ternyata tertarik pada kapal perang buatan Indonesia tersebut.

Berdasarkan informasi dari Dinas Penerangan Angkatan Laut yang diterima detikcom, Senin (1/6/2015), KRI merapat di Dermaga Doraleh, Djibouti untuk menambah bekal berupa pengisian ulang bahan bakar dan air tawar. Saat bertemu dengan Dubes RI Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Ethiophia, Imam Santoso dalam acara Cocktail Party, Imam menyampaikan bahwa Negara Republik Djibouti meminati kapal perang buatan Indonesia seperti KRI Banjarmasin-592.

"Kapal perang sejenis KRI Banjarmasin-592 memiliki multifungsi yang dapat membawa pasukan, kapal kecil atau LCU (Landing Craft Unit) untuk menggeser pasukan dan memiliki Helly Deck yang dapat memuat lima pesawat helikopter," kata Imam Santoso seperti disampaikan Kepala Dispenal, Kolonel Laut (P) Suradi Agung Slamet.

Ditambahkan Imam, produk alutsista dan nonalutsista buatan Indonesia lebih bagus secara mutu dan harganya terjangkau bila dibandingkan dengan produk Eropa yang bagus, namun harga mahal dan biaya perawatan mahal. Sedangkan produk Cina harganya murah namun kualitas kurang bagus.

Sumber: DETIK.COM

PT PAL Mulai Kerjakan Kapal Perang Pesanan Philipina

SURABAYA - PT PAL Indonesia mulai mengerjakan kapal perang yang segera dikirim ke Filipina. Kapal perang ini adalah adalah kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel). Kapal kelas ini telah sukses dalam pencarian pesawat Air Asia. Ini adalah kali pertama Indonesia mengekspor alutsista.
"Kapal SSV pesanan Filipina ini akan menjadi pembuktian positioning Indonesia dalam hal ini PT PAL di dunia internasional," kata Direktur Utama M Firmansyah, saat menyambut perwakilan Filipina, Jumat (5/6/2015).
Perwakilan Filipina hadir Wakil Kepala Staff Angkata Lautnya, Radm Caesar C Taccad di PT PAL untuk melihat proses dimulainya pengerjaan kapal pesanannya.
Selain itu, hadir pula perwakilan Kementerian Pertahanan, Deputy Bidang Usaha Agro dan Industri Strategis Kementerian BUMN, dan anggota Komisi VI DPR RI.
Kementerian Pertahanan Filipina diperkirakan aka menerima kapal gpesanannya itu pada Mei 2016. Saat ini pengerjaan tengah dimulai. Januari lalu telah dilakukan first steel cutting (pemotongan baja) dan akan dilanjutkan proses keel laying (peletasan lunas).
Kapal perang SSV buatan Indonesia itu memiliki panjang 123 meter, lebar 21,8 meter. mampu mengangkut 500 pasukan.
"Kami sangat bangga. Yang terpenting adalah delivery time dan quality control. Ini pertaruhan kita," kata Deputy Bidang Usaha Agro dan Industri Strategis Kementerian BUMN, Muhammad Zarkani.
Saat ini, seluruh perwakilan dan pihak terkait dalam pembuatan kapal perang pesanan Filipina tengah meninjau proses di PAL. Informasinya, Indonesia mengalahkan Korea dalam proses tender.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM

Indonesia Maritime Institute akan luncurkan pesawat tanpa awak

Written By Jurnal Pertahanan on Senin, 20 April 2015 | 23.13


Jakarta - Indonesia Maritime Institute (IMI) terus lakukan inovasi teknologi dirgantara maritim, antara lain akan meluncurkan pesawat tanpa awak Marine UAV OS-Wifanusa. 


"Flyingboat skala 1:3 ini kami sudah mantapkan untuk jadi Marine UAV (pesawat tanpa awak). Sistem UAV dibuat sendiri oleh tim ahli kami di IMI," kata Direktur Eksekutif IMI, Dr Y Paonganan, kepada pers di Jakarta, Senin.



Menurut Paonganan, selama 1.5 tahun, IMI melakukan riset pembutan flying boat yang diberi nama OS-Wifanusa dan sudah berhasi membuat prototype skala 1:3 terbang sempurna, dan sekarang memasuki proses pembuatan skala 1:1 yang nantinya bisa diawaki 4 orang.



Dia mengatakan, kemampuan marine UAV ini nantinya mampu terbang selama 3 jam dengan kemampuan jelajah 129 km/jam dengan ketinggian minimum jelajah 300 m. 



"Pesawat ini dilengkapi kamera video daynight resolusi tinggi dan lensa infra merah sehingga juga bisa diterbangkan pada malam hari," lanjut Ongen, panggilan akrabnya.



Doktor lulusan IPB itu menjelaskan, Flyingboat ini juga dilengkapi landing gear optional sehingga selain bisa landing dan take off dari laut, juga bisa dioperasikan di daratan. 



"Ground control station kami gunakan mobil minibus yang dimodifikasi menjadi stasiun kontrol yang lengkap dengan monitor dan antene helical, tentu ini akan memudahkan dalam pengoperasiannya. Selain mobil, kami juga sedang merancang ground control station menggunakan speed boat untuk penggunaan di wilayan pulau-pulau kecil, jadi akan lebih efektif jika penggunaannya untuk maritime surveillance," tandas Ongen.

Sumber: Antara

Mantapppppp, PT DI Dapat Pesanan 75 unit pesawat N219

Written By Jurnal Pertahanan on Selasa, 14 April 2015 | 18.57


Jakarta -Industri penerbangan Indonesia terus berkembang. BUMN dirgantara, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali mendapat pembeli. Sebanyak 75 unit pesawat N219 buatan BUMN ini telah dipesan.

Pembeli pesawat N219 ini adalah PT Nusantara Buana Air (PT NBA), PT Aviastar Mandiri, dan PT Trigana Air Service.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pesawat dilakukan oleh Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, Direktur Utama PT NBA, Laurens Prawira Natamihardja, Presiden Direktur PT Aviastar Mandiri, M. Sundoro dan Direktur Komersil PT Trigana Air Service, Daniel S Kurniawan. 

Peristiwa ini disaksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), mantan Presiden B.J. Habibie, serta Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir. Penandatanganan MoU dilakukan di Gedung Graha Widya Bhakti, Serpong, Senin kemarin.

Dalam keterangan tertulis PTDI, Selasa (14/4/2015), ketiga perusahaan berminat membeli pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi oleh PTDI. PT NBA menyatakan akan membeli 20 unit serta opsi 10 unit. PT Aviastar Mandiri menyatakan hal yang sama, yakni akan membeli 20 unit dengan opsi 10 unit. Sementara PT Trigana Air Service menyatakan akan membeli 10 unit dengan opsi 5 unit. 

Pesawat N219 yang baru akan masuk pasar pada 2017 mendatang sudah dinantikan kemunculannya oleh perusahaan-perusahaan penerbangan dalam negeri. Nota

Peristiwa ini di samping memberikan dampak positif bagi industri dalam negeri, khususnya PTDI juga akan menambah kepercayaan para pelanggan dan calon pelanggan lainnya di tanah air serta dari manca negara.



Pengembangan dan produksi N219 pada pabrik PTDI yang berlokasi di Bandung ini, jelas memberi kesempatan kepada PTDI untuk implementasi proses revitalisasi dan restrukturisasi di bidang operasi, sumber daya manusia, dan keuangan. Selain itu, program pembuatan N219 yang rancangannya 100% Indonesia akan menjadi wahana untuk mematangkan tenaga-tenaga muda Indonesia untuk menjadi ahli kedirgantaraan, karena menangani langsung proses pengembangan, produksi sampai dengan sertifikasinya

Tenaga-tenaga muda ini akan menggantikan senior-seniornya yang telah mendapatkan pengalaman dari program CN235. Selanjutnya tenaga-tenaga muda tersebut yang akan meneruskan kelangsungan proses penguasaan kedirgantaraan Indonesia. 

"Dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara PTDI dengan tiga perusahaan penerbangan di Tanah Air menunjukkan tingkat kepercayaan calon pelanggan pada pesawat N219, dan sekaligus kecintaan mereka terhadap karya anak bangsa yang juga dapat meningkatkan motivasi bagi para karyawan PTDI untuk menghasilkan produk-produk lainnya yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia dan dunia," kata Dirut PTDI Budi Santoso.

"Program N219 adalah sebagai wahana mematangkan insinyur-insinyur muda Indonesia untuk menguasai teknologi kedirgantaraan, sekaligus memasuki era komersial. Bahwa langkah strategis yang diambil PTDI untuk lebih mengembangkan produk komersial adalah melalui program pesawat N245 yang berkapasitas 50 penumpang sebagai pengembangan dari pesawat CN235," imbuh Budi.

N219 ini merupakan pesawat kelas kecil serbaguna berkapasitas 19 penumpang, yang akan menjadi salah satu andalan PTDI di masa depan, selain harganya yang kompetitif juga mengaplikasikan teknologi mutakhir, khususnya di bidang elektronik dan avionik. 

Kemampuan pesawat ini adalah, dapat lepas landas dalam jarak pendek, yakni sekitar 500-600 meter adalah merupakan jawaban terhadap kebutuhan perusahaan penerbangan yang memiliki rute perintis dengan kondisi lapangan terbang dengan peralatan minimal. Pesawat ini kelak akan menjadi jembatan udara yang tangguh dan efektif menghubungkan semua titik di wilayah Indonesia yang terpencil sekalipun.

N219 adalah pesawat multi fungsi bermesin ganda yang dirancang untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Pesawat ini dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu yang fleksibel.


Sumber: detik

Eurofighter Berencana Jadikan Indonesia Sebagai Basis Produksi Jet Tempur 'Typhoon'


Jakarta -Typhoon adalah jet tempur generasi 4.5 andalan dari Angkatan Udara negara-negara maju di Eropa hingga Timur Tengah. Jet tempur tersebut diproduksi oleh Eurofighter. Basis produksi Eurofighter terletak di 4 negara, yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Empat negara tersebut terlibat dalam produksi komponen utama pesawat, serta memiliki fasilitas assembly line atau perakitan akhir. Terakhir, Eurofighter berencana melebarkan sayap produksi di luar Eropa. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini, berencana membuka fasilitas assembly linedi Indonesia. 

Bila rencana ini berjalan mulus, maka Indonesia akan menjadi negara kelima, di luar Eropa, sebagai basis produksi jet tempur yang sukses pada misi di Libya tersebut.

"Indonesia akan menjadi basis produksi yang kelima," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne saat berbincang di Jakarta, Rabu (15/4/2015).

Tahap awal bila militer Indonesia membeli jet tempur Typhoon, maka Eurofighter bisa memulai program transfer teknologi. Eurofighter akan menggandeng produsen pesawat asal Indonesia yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI). 

Selanjutnya, para insinyur atau mekanik pesawat asal Bandung, Jawa Barat, akan dilatih dan terlibat dalam proses pengembangan dan produksi jet tempur Typhoon di Spanyol. Di sana, mereka dilatih selama 2 hingga 3 tahun. "Kita ajak engineer PTDI untuk untuk ambil bagian di Eropa," ujarnya

Selanjutnya ialah, para insinyur PTDI bersama ahli pesawat asal Spanyol bakal kembali ke tanah air untuk memulai proses produksi. Secara bertahap fasilitas produksi dan perakitan pesawat Typhoon di Spanyol bakal diboyong ke Indonesia.



"Selanjutnya final assembly akan dibawa ke Bandung," ceritanya.

Tahap awal, basis produksi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan jet tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setelah itu, pabrik pesawat di Indonesia bisa mengekspor jet tempur ke luar tanah air seperti yang dilakukan pada program pesawat angkut baling-baling tipe CN 235 dan NC 212.

"Pertama untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia kemudian baru untuk dijual ke luar," tuturnya.

Martin menegaskan, rencana Eurofighter di Indonesia tidak akan mengganggu program pengembangan jet tempur antara Indonesia dan Korea Selatan yang bernama program jet tempur KFX/IFX. Justru dengan kerjasama ini, Eurofighter bisa membantu di dalam meningkatkan kemampuan para insinyur pesawat Indonesia untuk merancang hingga memproduksi jet tempur secara mandiri.

"Kita latih untuk kembangkan pesawat tempur karena sekarang Indonesia belum punya," sebutnya.

Sumber: detik

Eurofighter Siap Gandeng PT DI Produksi Pesawat Tempur Typhoon


Jakarta -Perusahaan jet tempur asal Eropa, Eurofighter, memiliki rencana membuka pabrik di Indonesia. Eurofighter membuka opsi memproduksi dan merakit jet andalannya yakni Typhoon, di Bandung, Jawa Barat. 

Untuk proses produksi dan perakitan, Eurofighter siap menggandeng BUMN Indonesia, yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Ini peluang untuk membawa PTDI dari produsen pesawat angkut atau penumpang menjadi produsen pesawat tempur," Kata Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne saat berbincang di Jakarta, Rabu (15/4/2015).

PT DI digandeng bukan tanpa alasan. Airbus Group selaku induk perusahaan Eurofighter, ini telah memiliki hubungan bisnis jangka panjang dengan PTDI. Dimulai dengan pengembangan pesawat sipil NC212 di 1976, kemudian dilanjutkan pengembangan bersama untuk pesawat CN 235 hingga CN 295. 

Hubungan jangka panjang tersebut menjadi satu alasan bagi Eurofighter untuk meminang BUMN produsen pesawat asal Indonesia, sebagai basis assembly line (perakitan) jet tempur generasi 4.5 miliknya, di luar Eropa. Pesawat sekelas Typhoon dengan generasi serupa seperti Rafale buatan Prancis, JF-17 buatan Tiongkok, hingga F-18 buatan Amerika Serikat.

Selain telah memiliki hubungan bisnis dengan induk Eurofighter, PTDI juga telah memiliki fasilitas produksi pesawat dan fasilitas bandara yang lengkap di kawasan Asia.

"Kerjasama hampir 40 tahun dengan PTDI. Kerjasama telah dimulai sejak 1976," sebutnya.


Saat ditanya kapan mulai berproduksi di Indonesia, Martin menjelaskan, hal tersebut semua bergantung terhadap komitmen pemerintah Indonesia. Jika proses transaksi pembelian pesawat antara Eurofighter dan TNI berhasil, maka proses produksi dan perakitan di Indonesia bisa dimulai. "Produksi di Bandung direncanakan dimulai 2019," tuturnya.

Di tempat yang sama, Director Eurofighter GmbH, Joe Parker menjelaskan, sebelum memproduksi di Bandung, pihaknya berencana memboyong para insinyur atau ahli pesawat asal PTDI untuk dilatih pada salah satu basis produksi dan pengembangan jet Typhoon di Spanyol. 

Di sana, sekitar 20 insinyur pesawat asal Indonesia bakal dilatih untuk terlibat dalam proses pengembangan dan produksi pesawat tempur selama 2 hingga 3 tahun. Setelah program trasnfer of technology dari sisi sumber daya manusia, selanjutnya para insinyur Indonesia dan dibantu oleh insinyur dari Eurofighter akan kembali ke Indonesia untuk mulai mengembangkan dan memproduksi jet Typhoon di Bandung.

"Mereka akan terlibat dalam proses produksi dan pengembangan hingga menjadi ahli. Selanjutnya balik ke Indonesia bersama engineer kami. Kami akan membantu dari sisi sumber daya manusia dan pemerintah Indonesia diharapkan menyediakan infrastruktur di Indonesia," ujarnya.

Pesawat tempur Typhoon dirancang untuk pertempuran udara jarak dekat dan jarak jauh, atau di luar jangkauan pandangan. Dilengkapi dengan berbagai jenis rudal dan bom, Typhoon bisa melaju dengan kecepatan mach 2. Dengan kecepatan seperti ini, Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam waktu 4 menit. Pesawat ini didukung oleh 2 mesin tipe EJ200.

Pesawat ini mengkombinasikan airframe nan lincah yang terbuat dari material siluman atau stealth.

Sumber: detik

Pemerintah Dorong Industri Pertahanan Juga Berguna Untuk Keperluan Sipil

Written By Jurnal Pertahanan on Senin, 12 Januari 2015 | 16.45

JAKARTA - Pemerintah akan mendorong industri pertahanan untuk mampu menyerap dan mengembangkan teknologi terkini sehingga menjadi salah satu lokomotif penggerak industri nasional.

Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto menjelaskan misi pertamanya harus bisa menuju kemandirian pertahanan setiap kalau ada pengadaan alutsista atau senjata selalu harus dibarengi transfer teknologi.

"Kalau bisa industri pertahanan menjadi andalan lokomotif industri ke depan untuk menyerap teknologi terkini," tegasnya.

Andi mengatakan pemerintah juga mendorong agar industri pertahanan tidak hanya berguna bagi pengembangan alat-alat militer tetapi juga untuk penggunaan di kalangan sipil.

Seskab mengatakan kunjungan Presiden ke PT Dok dan PT PAL di Surabaya pada Sabtu (10/1) lalu merupakan salah satu langkah untuk memahami sumber masalah di industri pertahanan dan kemudian diselesaikan, sehingga industri pertahanan nasional dapat berkembang.

Sementara itu Presiden Joko Widodo saat mengunjungi PT PAL mengatakan pada dasarnya perusahaan tersebut telah memiliki kemampuan dan fasilitas yang memadai untuk terus berkembang tinggal pengambangan pasar.

"Ini cukup untuk bisa sebagai awal mengembangkan industri maritim kita, tidak hanya PT PAL, sehingga memang perusahaan ini harus dipenuhi dengan pesanan, dan pastikan lima tahun ke depan sudah ada pesanan, sehingga persiapan manajemen, persiapan mesin-mesin bisa dipersiapkan untuk tidak membuat barang beraneka macam, fokus saja pada dua jenis barang, " ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Jokowi, proses produksinya lebih cepat, penguasaan barang lebih gampang, ini menurut saya, karena setiap tahunnya kadang ada, kadang tidak (ada pesanan-red), sehingga untuk platform offshore sudah diterima, order yang sebetulnya bukan di bidang keahlian bisa ngerjakan.

"Saya kira kalau kita ingin kembangkan industri maritim ya kita harus fokus, kalau kapal ya kapal. Kalau untuk kapal selam ya kapal selam, fokus terus," paparnya.

Kepala Negara menegaskan yang utama adalah pengembangan kemampuan manajemen, baru kemudian diikuti dengan pengembangan pasar, sambil disiapkan permodalannya selain selalu meningkatkan teknologi dan kemampuan mesin-mesin yang dimiliki.

Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Seskab Andi Widjajanto, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan sejumlah pejabat lainnya, Sabtu (10/1) meninjau PT PAL, PT Dok dan juga terminal penumpang di Pelabuhan Tanjung Perak.

Pada Senin (12/1) mendatang, menurut Seskab Andi Widjajanto, Presiden juga dijadwalkan meninjau industri strategis lainnya, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN di Bandung.

Presiden Joko Widodo berjanji akan memberi suntikan dana tambahan kepada PT Pindad

Bandung- Guna merealisasikan rencana perbaikan total di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pertahanan, Presiden Joko Widodo berjanji akan memberi suntikan dana tambahan kepada PT Pindad, sebagai perusahaan manufaktur yang menyediakan berbagai produk mesin seperti generator dan senjata untuk militer. Akan tetapi, janji tersebut baru akan dilunasi oleh Jokowi jika PT Pindad berhasil membuat total produksi mereka berlipat ganda.

"Jangan tergantung saja pada TNI, Polri, atau kementerian, tapi juga masuk ke pasar selain Indonesia kalau mau melipatkan produksi," ujar Jokowi dalam kunjungannya ke PT Pindad di Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/1).

Janji suntikan dana tersebut dibuat Jokowi seusai berkeliling pabrik. Saat itu, Jokowi menilai manajemen produksi PT Pindad ada dalam kategori bagus dan sesuai dengan alur produksi. "Kalau tadi melihat line produksinya sangat bagus. Saya sebagai orang produksi melihatnya sangat bagus. Alur produksinya jelas," katanya.

Tak hanya itu, dia menambahkan, area produksi PT Pindad yang terbilang bersih kian membuktikan manajemen dijalankan dengan baik. "Kemudian alur dari raw material production (produksi bahan mentah) di mesin kemudian assembling (pemasangan), itu kelihatan," kata dia.

Oleh karenanya, Jokowi beranggapan, PT Pindad hanya perlu diberikan dorongan agar kapasitas produksi dapat berlipat ganda. Iming-iming suntikkan dana tersebut pun diakui Jokowi telah dikoordinasikan dengan Menteri BUMN, Rini Soemarno.

"Kalau marketing bagus, produksi punya kemampuan, ya akan kita suntik. Dananya kita tambah, baik untuk investasi maupun modal kerja. Saya kira kita memang harus seperti itu," ujarnya.

Jokowi juga meminta agar jangan sampai alat-alat pertahanan banyak beli di luar negeri. "Kalau kita belum bisa berproduksi, ya join dengan luar. Tapi (produksinya) ya di sini. Semua arahnya ke sana," kata Jokowi.

Akhir Desember 2014, Jokowi sempat mengemukakan niatnya untuk melakukan perbaikan total di BUMN bidang pertahanan seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia.

Jokowi meminta BUMN pertahanan melakukan terobosan dengan membuat teknologi sipil-militer. Artinya, produksi bukan hanya bisa digunakan untuk kebutuhan pertahanan, tapi juga nonpertahanan alias komersial atau industri pertahanan sipil.

Sementara itu, PT Pindad menganggarkan investasi Rp 700 miliar tahun ini untuk menggenjot produksinya. Ini seiring dengan meningkatnya permintaan pemerintah terhadap produk alat utama sistem senjata (alutsista) keluaran PT Pindad.

Tahun ini, PT Pindad berencana untuk melakukan ekspansi dan modernisasi alat produksi. Dari Rp 700 miliar yang dibutuhkan PT Pindad, Rp 300 miliar ditujukan untuk modernisasi peralatan militer tua, Rp 300 miliar guna memproduksi alutsista untuk Kementerian Pertahanan, TNI, dan Polri, sedangkan Rp 100 miliar untuk menjalin kerja sama dengan luar negeri.

Jokowi berharap suntikan Rp 700 miliar itu dapat berdampak kepada perekonomian negara. "Jangan sampai kita beli di luar dan juga mengganggu neraca perdagangan kita," ujar dia.

Saat ini, ungkap Jokowi, produksi unggulan PT Pindad berupa pistol, senjata, kendaraan tempur, amunisi, dan panser. "Kita kan local contain bisa 80 persen. Menurut saya ke depan sudah mulai didorong terus," ujar dia.

Sumber: CNN Indonesia

Presiden Jokowi Tinjau PT Pindad

Bandung - Dalam kunjungan kerjanya ke beberapa tempat di Jawa Barat, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri mengunjungi lokasi pembuatan senjata, PT Pindad, Senin sore 12 Januari tadi. Dalam kunjungannya itu, presiden memuji sistem produksi PT Pindad. “Itu memperlihatkan manajemen produksi itu baik atau tidak baik.

Alur mulai dari raw material, produksi di mesin, kemudian assembling itu kelihatan,” kata Jokowi di sela-sela peninjauannya ke PT Pindad, Bandung. Yang perlu didorong dari PT Pindad menurut Jokowi, jumlah kapasitas produksinya terus meningkat. Di menilai hal itu bergantung pada marketingnya.

“Marketingnya jangan bergantung saja pada TNI-Polri dan kementerian saja. Tapi harus masuk ke pasar di luar Indonesia,” tambah presiden. Presiden mengaku sudah menyampaikan kepada Menteri BUMN Rini Soemarno agar mendorong marketing PT Pindad menjadi lebih baik.

Termasuk dengan menyuntik Penyertaan Modal Negara (PMN)-nya, baik untuk investasi atau untuk modal kerja. Dia berharap pertahanan Indonesia tidak hanya bergantung pada alutsista impor, melainkan dapat memproduksi sendiri.

“Kita harus seperti itu, jangan sampai alat-alat pertahanan itu kita banyak beli di luar. Kalau memang kita belum bisa berproduksi ya join dengan luar, tapi (produksinya) di sini. Arahnya akan ke sana,” tegas presiden.

Diakui presiden memang masih ada beberapa peralatan yang belum mampu diproduksi oleh Indonesia. Tetapi, lanjut Presiden, ia telah mengarahkan untuk join dengan industri pertahanan lainnya. “Senjata, kendaraan tempur, panser local contentnya bisa 80 persen,” kata presiden. 

Sumber: Fajar.co.id

Kapal TNI AL KCR Trimaran Terbuat Dari Bahan Tahan Api dan Anti-radar

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 29 Oktober 2014 | 17.22

Banyuwangi - Pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, terus melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Terbaru, penjaga kedaulatan maritim Indonesia ini memesan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter, yang diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest, sebuah perusahaan galangan kapal kebanggaan nasional yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio berkesempatan meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Jumat (24/10). Turut mendampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma.

"Kunjungan hari ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara,” kata Marsetio, di Banyuwangi, Jumat (24/10).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero).

"Untuk tahap pertama TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama,” ujar Marsetio.

Desain Kapal KCR Trimaran yang terbaru ini akan sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini juga akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar.

"Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT. Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri,” imbuh Marsetio.

Sebagai informasi, saat ini PT. Lundin tengah membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran 63 meter untuk TNI AL. Pembangunan kapal ini merupakan pembangunan yang kedua kalinya, yakni sebagai pengganti kapal sebelumnya "KRI Klewang-625" yang terbakar pada September 2012 sebelum diserahkan ke TNI AL.

KCR Trimaran ini berdesain unik "wave piercing" yang bisa tetap stabil di tengah kondisi cuaca buruk. Kapal ini juga bisa terhindar dari radar maupun infra merah.

Dalam kesempatan ini, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan.

"Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," kata Anas.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi.

"Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," pungkas Anas.

Sumber: Berita Satu

Menhan Ryamizard Ryacudu: Industri dalam negeri diutamakan

Jakarta - Menhan Ryamizard Ryacudu sudah punya pandangan soal penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista). Dia menegaskan, industri pertahanan akan mengutamakan produksi dalam negeri.

"Industri dalam negeri harus diutamakan. Semua kita harus mandiri. Harus berdiri sendiri," jelas Ryamizard di halaman Istana Negara, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Ryamizard juga menegaskan, saat ini Alutsista yang digunakan pertahanan Indonesia dinilai sudah lumayan. Dia pun akan mengganti yang tidak layak pakai.

"Alutissta sudah bagus kita lihat dulu, saya harus profesional. Yang tidak bagus ya kita lihat bisa diapakan," tutup dia.

Sumber: Detiknews

Dalam Lima Tahun Indonesia akan memproduksi sendiri pesawat pengintai

Jakarta- Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melakukan alih teknologi. Upaya itu bertujuan meningkatkan kemandirian Indonesia untuk memproduksi alat utama sisstem senjata (alutsista).

Dalam jangka waktu lima tahun, kata Menteri Pertahanan Jenderal TNI (purn) Ryamizard Ricudu di Jakarta, Rabu (29/10/2014), Indonesia akan memproduksi sendiri pesawat pengintai. Indonesia menggandeng Korea Selatan dalam produksi tersebut.

Menurut mantan Kepala Staf TNI AD (KSAD) itu, alih teknologi di bidang pertahanan perlu untuk memenuhi kebutuhan pengamanan Indonesia. Tujuannya yaitu menjaga kedaulatan NKRI.

Namun ia belum dapat memastikan keinginan Presiden Joko Widodo untuk membeli pesawat tanpa awak. Untuk saat ini, akunya, pengawasan pertahanan Indonesia masih mengandalkan kamera satelit.

Sumber: Metrotvnews

Ground Breaking Pembangunan Industri Propelan di Subang, Mewujudkan Kemandirian Alutsista

Written By Jurnal Pertahanan on Rabu, 15 Oktober 2014 | 20.30

Jakarta - Dalam upaya mewujudkan kemandirian bangsa khususnya untuk penguasaan kemampuan di bidang industri alat utama sistem pertahanan (alutsista), Kementerian Perindustrian terus mendorong pembangunan da npengembangan industri propelan. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat dalam sambutannya pada acara Ground Breaking Pembangunan Industri Propelan di Subang, akhir pekan lalu. Pada acara tersebut juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kedubes Perancis, dan Direksi PT. Dahana (Persero).

Pembangunan industri propelan tersebut merupakan salah satu jalinan hubungan bisnis antara Indonesia dengan Perancis dalam hal ini Roxel dan Eurenco. “Semoga hubungan dua negara yang diwujudkan dalam kerjasama bidang industri alutsista ini semakin meningkat di masa mendatang. Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga acara ini dapat terselenggara dengan baik,” tegas Menperin yang dikutip dari siaran pers, Minggu.

Dalam kerjasama ini, Eurenco bertindak sebagai perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial. Sedangkan, Roxel France sebagai perusahaan yang memiliki keahlian dalam bidang desain, pengembangan, produksi serta pemasaran motor roket dan peralatan terkait hardware dan perangkat ledak. Sementara itu, PT. Dahana (Persero), sebagai perusahaan milik negara yang bergerak di bidang industri bahan peledak, bersama dengan Eurenco serta Roxel telah berkomitmen untuk saling membantu dan mendukung pemerintah RI dalam mempersiapkan pabrik propelan dan spherical powders di Indonesia.

Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan dalam negeri, karena produk tersebut merupakan bahan baku pembuatan peluru, roket, peluru kendali (missile), serta propelan untuk amunisi kaliber kecil, menengah dan besar. Diharapkan, berdirinya pabrik propelan ini dapat memenuhi kebutuhan propelan di Indonesia dengan kemampuan produksi nitrogliserin sebanyak 200 ton/tahun, spherical powder (propelan double base untuk MKK) sebanyak 400 ton/tahun, propelan double base roket sebanyak 80 ton/tahun, dan propelan komposit sebanyak 200 ton/tahun.

Menurut Menperin, gagasan untuk mendirikan pabrik propelan di dalam negeri sudah cukup lama. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan terus dilakukan karena untuk memproduksi propelan memerlukan teknologi yang cukup sulit. Terlebih lagi, bahan baku utama sulit didapatkan, seperti nitrogliserin. “Apabila ditinjau dari aspek ekonomi dan bisnis pembuatan pabrik propelan ini membutuhkan investasi yang cukup besar dan tidak pada skala ekonomis sehingga tidak layak secara financial, sehingga tidak memungkinkan apabila pabrik ini didirikan oleh industri.Namun, ada beberapa aspek lainnya yang tidak kalah penting yang dapat memungkinkan didirikan pabrik propelan,” tegas Menperin.Aspek penguasaan teknologi merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam pengembangan industri nasional.

Diharapkan, pendirian pabrik propelan di dalam negeri mampu memberikan manfaat seperti: (a) Kemandirian ketahanan dan pertahanan nasional serta penegakan kedaulatan negara, karena propelan merupakan komponen utama untuk munisi dan roket bagi kebutuhan operasi TNI dan Polri; (b) Terdukungnya kebutuhan operasi baik kuantitas maupun kualitas, seperti kegiatan komando pendidikan, bekal persediaan di seluruh Kodam, serta bekal pertahanan di tempat-tempat strategis/instalasi strategis dan latihan rutin untuk satuan/pasukan; (c) Sebagai salah satu sumber daya dalampengembangan Alutsista.

Di samping itu, Menperin menegaskan, eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar harus dapat mempertahankan dari ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Ancaman ini dapat berupa ancaman konvesional dan non-konvensional. Untuk mengantisipasi adanya potensi ancaman tersebut, diperlukan kemandirian kemampuan terutama dalam hal Hankamnas dan penyediaan Alutsista. Dalam menghadapi situasi global yang semakin tidak menentu, stabilitas nasional menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu, memantapkan stabilitas nasional dibutuhkan dukungan berbagai pihak, tidak hanya dari TNI semata, tetapi juga dari Industri Pertahanan dalam negeri.

Pendirian pabrik ini dalam jangka pendek bertujuan untuk memproduksi propelan amunisi dan roket serta dapat menghemat devisa karena selama ini kebutuhan propelan Indonesia diimpor dari luar negeri. Sedangkan dalam jangka panjang, pabrik ini bertujuan untuk diversifikasi produk propelan dan penetrasi pasar regional.Dengan adanya pabrik ini diharapkan dapat tercipta kemandirian propelan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan kepada pihak asing.

Sumber: Neraca.co.id

Lima Kapal Perang Buatan Dalam Negeri Perkuat Alutsista TNI AL

Written By Jurnal Pertahanan on Minggu, 28 September 2014 | 19.36

Batam – Lima kapal perang yang terdiri dari satu unit kapal perang jenis Patroli Cepat (PC)-43 dan empat unit kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR)-40 produksi galangan kapal dalam negeri secara resmi memperkuat Alutsista di jajaran TNI AL.

Kelima kapal perang tersebut masing-masing satu unit Kapal PC-43 KRI Sidat-851 dan satu unit KCR)-40 KRI Terapang-648 diproduksi oleh PT. Citra Shipyars, Batam, sedangkan tiga unit KCR-40 lainnya KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647 diproduksi oleh PT. Palindo Marine Shipyard, Batam.

Peresmian dilakukan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sekaligus pelantikan dan pengukuhan Komandan Kapal KRI Sidat-851, KRI Surik-645, KRI Siwar-646, KRI Parang-647 dan KRI Terapang-648, Sabtu (27/9) di Dermaga Batu Ampar, Batam. Hadir dalam acara peresmian Kasal, Dirut PT. Citra Shipyars dan Dirut PT. Palindo Marine Shipyard dan beberapa pejabat di jajaran Kemhan dan TNI AL.

Menhan dalam sambutannya mengatakan, pembangunan satu unit PC-43 dan empat unit KCR-40 sebagai kapal anti permukaan untuk menambah kekuatan pertahanan khususnya di jajaran TNI AL dalam rangka mendukung tugas-tugasnya baik dalam operasi militer untuk perang maupun operasi militer selain perang.

1 unit kapal PC-43 dan 1 unit KCR-40 meter merupakan dua unit kapal milik TNI AL yang dibangun di PT Citra Shipyard, Batam yang akan memperkuat jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Sedangkan 3 unit kapal KCR -40 meter merupakan kapal TNIAL yang kelima sama dengan yang ketujuh yang dibangun oleh PT. Palindo Marine Shipyard ditetapkan untuk memperkuat jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).

Pembangunan kapal perang tersebut diharapkan memenuhi kriteria dasar yaitu memiliki kecepatan tinggi dapat bermanufer cepat, dapat melaksanakan operasi litoral yang dilengkapi dengan senjata strategis.

Menurut Menhan, dengan telah diresmikannya kelima kapal perang produksi dalam negeri ini juga menunjukan bahwa galangan kapal dalam negeri PT. Palindo Marine Shipyard dan PT Citra Shipyard, Batam telah dapat memberikan bukti nyata bahwa galangan kapal dalam negeri memiliki kemampuan membangun kapal perang yang berkualitas.

Mengakhiri sambutannya, Menhan atas nama Kemhan meyampaikan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Dirut dan Pimpinan PT. Palindo Marine Shipyard dan PT Citra Shipyard, Batam atas kerjasamanya dalam membangun Alutsista TNI AL.

Kapal Patroli Cepat (PC)-43

Kapal PC-43 KRI Sidat-851 yang dibuat oleh PT Citra Shipyard memiliki spesifikasi panjang 44.90 meter, lebar 7,8 meter, bobot 230 ton, dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot, dan kecepatan ekonomis 15 knot.

Dilengkapi dengan satu sekoci Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB), dengan penggerak outboard engine 75 PK. Selain itu, kapal ini memiliki ketahanan (endurance) dalam kemampuan berlayar selama empat hari.Kapal ini dipersenjatai dengan Senapan Mesin Berat kaliber 12,7mm yang ditempatkan pada buritan kapal. Kapal PC-43 juga dilengkapi dengan perangkat navigasi serta radar yang canggih.

Kapal Cepat Rudal (KCR)-40

Kapal perang jenis KCR-40 yakni KRI Surik-645, KRI Siwar-646, KRI Parang-647 yang dibuat oleh PT. Palindo Marine Shipyard memiliki spesifikasi panjang 45.60 meter, lebar 7.4 meter. Kapal ini menggunakan 3 unit mesin diesel berkekuatan masing masing 1800HP sehingga mampu mencapai kecepatan maksimum 27 knots. Kapal ini nantinya akan dilengkapi meriam anti serangan udara dan sepasang rudal surface to surface yang memiliki jangkauan tembak sampai 100 km.

Sedangkan KRI Terapang-648 yang dibuat oleh PT Citra Shipyard memiliki panjang 44.90 meter dan lebar 7.8 meter. tidak berbeda dengan KCR-40 produksi PT Palindo Marine Shipyard, KRI Terapang-648 juga menggunakan 3 unit mesin diesel berkekuatan masing masing 1800HP sehingga mampu mencapai kecepatan maksimum 27 knots.

Bahan-bahan pembuatan kapal perang KCR-40 ini sebagian besar juga diproduksi perusahaan dalam negeri. Lambung kapal terbuat dari baja khusus bernama High Tensile Steel produksi PT. Krakatau Steel.

Dengan penambahan empat KCR-40 tersebut, maka saat ini jajaran Alutsista TNI AL telah diperkuat dengan delapan kapal perang jenis KCR-40 produksi industri dalam negeri. Sebelumnya, empat kapal perang dengan jenis KCR-40 yakni KRI Clurit 641, KRI Kujang 642, KRI Beladau 643 dan KRI Alamang-644 telah sukses dibuat oleh PT. Palindo Marine Shipyard.

Kapal-kapal perang hasil buatan dalam negeri dan karya anak bangsa tersebut rencananya akan ikut tampil memeriahkan parade pada peringatan HUT TNI tanggal 7 Oktober mendatang, di Surabaya.

Sumber: DMC
Powered By Blogger

Defence Media Center

Kementerian Pertahanan

HARI BELA NEGARA 2015

HARI BELA NEGARA 2015

PERHATIAN

"Bagi Sobat Readers ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Sobat Readers, mohon cantumkan link aktif artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut"

Terima kasih

Admin

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURNAL PERTAHANAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger